Definisi Sastra & Kesusastraan

Kali ini penulis akan menampilkan beberapa uraian mengenai pengertian sastra yang telah ditulis oleh beberapa pakar, baik luar negeri atau dalam negeri. Dengan tujuan memberikan pemahaman dasar mengenai sastra dan kesusastraan, penulis mencoba menyusun secara runtut berdasarkan periode munculnya teori tersebut. Berikut adalah penjelasannya.

Sastra menurut Sapardi (1979: 1) adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Pada dasarnya sastra terbagi dalam dua wilayah, yang pertama sastra sebagai proses kreatif dan yang kedua sastra sebagai dunia keilmiahan. Sudjiman (1988:12) berpendapat bahwa karya sastra adalah salah satu bentuk karya seni yang dihasilkan manusia dengan menggunakan bahasa sebagai alat pelahirnya. Karya sastra diciptakan bukan hanya untuk menghibur tetapi juga bermanfaat bagi pembacanya. Dengan ditunjang oleh daya imajinasi dan kreasi serta ketajaman mata hatinya, pengarang lewat karya sastra menghadirkan bukan hanya sebagai sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga bermanfaat. Tidaklah mengherankan apabila karya sastra menambah kekayaan batin setiap penikmatnya. Ia mampu menjadikan para penikmat lebih mengenal manusia dengan kemanusiaannya karena yang disampaikan dalam karya sastra tersebut tidak lain adalah manusia dengan segala macam perilakunya.

Wellek  dan Warren (1990: 48-49) menggolongkan jenis karya sastra, yaitu karya sastra lisan dan karya sastra tulisan. Karya sastra tulisan adalah karya sastra yang dipopulerkan melalui tulisan-tulisan. Kita sering menemukan berbagai macam karya tulisan di sekitar kita, misalnya prosa, puisi, cerpen, drama, dan roman atau novel. Sejalan dengan Wellek dan Waren, Suroto (1993) dalam bukunya yang berjudul Apresiasi Sastra Indonesia menjelaskan secara terperinci tentang pengertian tiga genre yang termasuk prosa naratif yaitu novel, roman, dan cerpen. Cerpen atau cerita pendek adalah suatu karangan prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan manusia – pelaku/tokoh dalam cerita tersebut. Dalam karangan tersebut terdapat pula peristiwa lain tetapi peristiwa tersebut tidak dikembangkan, sehingga kehadirannya hanya sekedar sebagai pendukung pokok agar cerita tampak wajar. Ini berarti cerita hanya dikonsentrasikan pada suatu peristiwa yang menjadi pokok ceritanya.

Mursal Esten menyatakan, sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Sedangkan menurut Sumardjo dan Sumaini definisi sastra adalah seni bahasa. Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa. Sastra adalah inspirasi kehidupan yang dimaterikan dalam sebuah bentuk keindahan. Sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona (Nurgiantoro, 1995:1).

Menurut Levefere (1997: 7), sastra adalah deskripsi pengalaman kemanusiaan yang memiliki dimensi personal dan sosial yang sekaligus menyertakan pengetahuan kemanusiaan yang sejajar dengan bentuk hidup itu sendiri. Sastra penting dipelajari sebagai sarana berbagai pengalaman dalam mencari dan menemukan kebenaran kemanusiaan. Berdasarkan pemahaman ini, Lefevere menyatakan bahwa untuk mencari kedalaman pengalaman kemanusiaan ini diperlukan tidak saja sekedar persepsi tapi juga observasi. Dengan melakukan observasi atau penelitian sastra, kita ikut terlibat secara aktif dan perhatian kita diarahkan kepada aspek-aspek tertentu yang menarik perhatian kita.

Nyoman Kutha Ratna (2008:305) menyatakan bahwa “hakikat karya sastra adalah imajinasi yang dilukiskan melalui bahasa dan dilakukan oleh pengarang, tetapi bila tanpa didasarkan atas dan diinvestasikan terhadap pemahaman mengenai kenyataan dalam masyarakat, maka karya sastra tersebut akan berubah menjadi dongeng, cerita khayal, bahkan sebagai ilmu pengetahuan.” Pernyataan Nyoman tersebut menjelaskan bahwa karya sastra juga erat hubungannya dengan masyarakat karena, dalam hal penciptaan karya sastra, masyarakat dan seluruh aspek kehidupannya merupakan sebuah inspirasi. Menururt Endraswara (2003: 150)  karya sastra lisan dapat dibagi menjadi dua yaitu karya sastra lisan murni yang berupa dongeng, legenda, cerita yang tersebar secara lisan di masyarakat dan karya sastra lisan tak murni biasanya berbaur dengan tradisi lisan yang sudah ada.

Sudaryanto (2010:1), sastra sebagai dunia kreatif mencakupi tiga genre yang meliputi bentuk puisi, bentuk prosa, dan bentuk drama. Genre ini terdiri atas dua macam, yaitu berbentuk tulis dan lisan. Puisi, prosa, dan drama dalam bentuk tulis merupakan hasil proses kreatif pencipta atau pengarang yang dituangkan lewat idenya menjadi sebuah karya tulis. Adapun karya sastra dalam bentuk lisan, baik berupa puisi, prosa, maupun drama, hidup ditengah-tengah masyarakat. Sedangkan Boulton (dalam Aminuddin 2011: 37) mengungkapkan bahwa karya sastra selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, karya sastra mengandung pandangan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan. Kandungan makna yang begitu kompleks serta segala macam keindahan akan terwujud atau tergambar lewat media kebahasaan, media tulisan, dan struktur wacana.

Disusun oleh : Eko Romansah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s