Uraian Seputar Paham Liberalisme

Ada banyak ideologi yang ada di dunia ini. Ideologi menyebar ke seluruh dunia baik dunia barat dan dunia timur sesuai perkembanngan jaman, tak terkecuali di Indonesia. Ideologi yang paling populer atau familiar di telinga kita adalah idelogi sekularisme, kapitalisme, liberalisme, sosialisme, dan pluralisme. Baru-baru ini di Indonesia, ideologi sekularisme dan pluralisme marak dibicarakan mengingat keluarnya fatwa haram (larangan) untuk diikuti masyarakat Islam di Indonesia. Kedua ideologi tersebut dikhawatirkan dapat memecah belah bangsa dalam kehidupan beragama. Meskipun dasar fatwa tersebut kurang memperdulikan konteks dan definisi yang jelas. Lebih menarik lagi, tidak semua masyarakat Indonesia menerima fatwa tersebut. Pihak pendukung pluralisme dalam rangka mempertahankan Pancasila sebagai kesepakatan Ideologi berbangsa dan bernegara menentang keras adanya fatwa tersebut. Akan tetapi point dari tulisan ini bukan membahas pertentangan kehidupan sosial-keagamaan, namun saya akan mencoba menguraikan liberalisme sebagai ideologi awal pasca revolusi Prancis.

Liberalisme bagi masyarakat Indonesia sangat dekat dengan ideologi Sosialisme. Seperti dua bilah mata uang, keduanya dekat dan saling berlawanan. Banyak orang beranggapan bahwa sosialisme menjadi lawan dari ideologi liberalisme dan hal ini nampak benar adanya. Seolah-olah kedua ideologi ini berlomba untuk saling memperebutkan pengikut. Semacam perang dingin (perang ideologi) pasca perang dunia II. Kita pasti masih teringat perang dunia II yang menghasilkan blok barat dan blok timur. Blok barat sebagai sayap kanan pembawa ideologi liberalisme dan blok timur sebagai sayap kiri pembawa ideologi sosialisme. Kedua ideologi ini secara perlahan masuk ke Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia 1945. Akar dari ideologi sosialisme adalah Marxisme dan Komunisme yang sekarang secara resmi dilarang oleh undang-undang masuk ke Indonesia. Dalam sejarah, ideologi sosialisme tak semudah liberalisme dalam penerapan secara formal di kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Kali ini saya akan mendeskripsikan Liberlisme sebagai ideologi yang cukup familiar ditelinga kita. Apa itu liberalisme? Secara etimologi atau akar kata dari liberalisme adalah liber (bahasa latin) yang artinya free atau bebas. Jika menilik dalam bahasa Inggris, liber memiliki banyak kata yang berarti sama tapi berbeda makna yaitu liberty, freedom, dan independent. Perbedaannya disini, freedom diikuti oleh freedom of, bebas dari suatu hal. Sedangkan liberty adalah bebas terhadap apapun dan independent adalah bebas merdeka, tidak terikat oleh apapun sebelum dan sesudahnya, tidak tergantung dengan apapun. Liberalisme lebih mengarah pada liberty yang artinya bebas terhadap apapun. Jika kata tersebut diimbuhi dengan akhiran –isme, maka akan menjadi sebuah paham. Kata isme di dunia Barat muncul sekitar abad 17 oleh filosof bernama Thomas Carlyle (1795) yang diteruskan oleh Bernard Shaw (1856). Isme berasal dari yunani kuno ismos, diadopsi dalam bahasa Latin kemudian dalam bahasa Prancis dan Inggris. Di indonesia, isme dipakai sebagai paham atau ideologi dan kemudian menjadi liberalisme.

Liberalisme ketika sudah menjadi ideologi maka berlaku sistem tertutup,yaitu sistem yang sudah memiliki pola atau pattern. Penganut ideologi tersebut dibatasi dengan pola-pola yang telah diciptakan. Hati-hati, acapkali sebuah ideologi membuat individu menjadi fanatik dengan segala keharusan yang mengikat. Kita sebagai individu harus pintar untuk menyikapi dan menyiasatinya. Seperti contoh, seseorang boleh menjadi pejuang sosial tapi tidak harus menganut sosialisme. Seseorang boleh memperjuangkan kebebasan tapi tidak harus menganut ideologi liberalisme. Kita harus mampu menempatkan diri sesuai kontaks agar tidak salah langkah dalam menentukan pilihan.

Kita kembali pada liberalisme. Secara terminologi, liberalisme adalah sebuah ideologi, filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada kebebasan dan persamaan hak. Value dasar dari liberalisme adalah bebas berpikir dan berekspresi. Kita tidak bisa ikut-ikutan karena liberalisme melarang individu untuk meniru atau mengikuti. Individu bebas memilih sendiri apa yang akan dia lakukan. Liberalisme mencita-citakan masyarakat yang bebas. Keyword dari liberalisme adalah kebebasan berpendapat berbicara atau berwacana, hak asasi manusia,  anti diskriminasi, dan anti hegemoni.

Kita dapat mengidentifikasi paham liberalisme dengan menandai freedom of speech, kebebasan berbicara dan berpendapat. Dimana ada larangan untuk berbicara dan berpendapat atau berpikir, berati tidak masuk dalam pola ideologi liberalisme. Kita bebas berbicara sebagaimana orang lain juga bebas berbicara. Namun setidaknya kita objektif dalam menyikapi pendapat orang lain, jika pendapat orang lain lebih bagus dari pendapat kita ya kita akui kalau itu bagus. Di era post modern seperti ini, banyak penerapan pola liberalisme yang tidak pas. Orang seringkali menilai kebebasan secara subjektif bukan secara objektif, alhasil kebebasan yang ngawur. Freedom of speech adalah nilai pertama yang dijamin oleh liberalisme dan diperuntukkan oleh orang-orang yang terbuka.

Kemudian untuk mengidentifikasi liberalisme dengan menandai three natural right atau hak atas life, liberty, and property. Hak untuk hidup berdasarkan pada life is not under anyone, kita hidup tidak dibawah siapapun. Tidak ada orang di atas maupun dibawah setiap individu dan setiap individu setara. Kemudian hak atas kebebasan (liberty). Hal ini bermakna manusia boleh malakukan apa saja, freedom to do things. Tidak ada orang lain yang menanggung hasil dari perbuatan tiap individu dan individu itu sendirilah yang menanggung hasil dari perbuatannya. Dalam liberalisme, hak atas property diartikan dengan freedom of own things. Hak milik sangat dihargai dalam liberalisme, hak milik atas sesuatu (barang) diakui. Berbeda dengan sosialisme, sesuatu harus dimiliki bersama untuk kepentingan bersama.

Cara mengidentifikasi terakhir dari paham liberalisme adalah against of absolute power, melawan kekuasaan absolut. Liberalisme tidak menginginkan adanya kekuatan yang menindas. Liberalisme sangat anti dengan tirani, yaitu kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Kekuasaan yang merugikan hak individu tidak masuk dalam pola liberalisme. Dengan berpijak pada tidak adanya kekuasaan yang absolut ini, liberalisme mampu mengubah sejarah dunia barat yang mulanya menganut sistem pemerintahan monarki menjadi State atau Nation. Kita bisa melihat peristiwa revolusi Prancis dan revolusi Amerika, dimana kedua peristiwa tersebut dijadikan titik awal perkembangan paham liberalisme. Sebuah gerakan yang menghancurkan dogma agama dan hierarki sistem kerajaan. Revolusi prancis membawa tiga semboyan besar yaitu liberté, égalité, dan fraternité (kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan). Kita bisa melihat lukisan Eugène Delacroix untuk mengabadikan peristiwa revolusi Prancis dengan gambar dewi kebebasan liberty leading the people. Sedangkan revolusi Amerika, pertempuran Amerika melawan Britania Raya, melahirkan declaration of independent. Piagam deklarasi ini lah yang menginspirasi lahirnya liberalisme. Manusia akirnya sadar dari hegemoni penindasan dan perbudakan.

Dua filosof besar yang merangkum kesadaran tumbuh bebas adalah Thomas Hobbes (1588) dan John Locke (1632). Thomas Hobbes mengatakan bahwa manusia pada dasarnya jelek atau egois namun manusia menginginkan kedamaian, maka dari itu perlu dibentuk suatu masyarakat baru yang mengatur dan menciptakan kedamaian. Jika manusia dibebaskan tanpa aturan dunia akan hancur, untuk itu Hobbes mengatakan bahwa manusia butuh aturan dan pemerintah. Sedangkan John Locke berpikir sebaliknya, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan menjadi jelek karena pengaruh dari lingkungan. Locke berpijak pada kebutuhan manusia yang sederhana, makan, minum, tidur dll. Sedangkan yang membuat individu jelek adalah kesenjangan atas harta dan kekayaan yang membuat iri satu sama lain. Maka dari itu untuk mencegah terjadinya perampasan hak dibutuhkan negara sebagai penengah.

Nilai-nilai utama dalam liberalisme adalah kesetaraan individu (tidak ada anak emas dan anak tiri). Setiap pendapat harus dihargai dan berkedudukan setara. Pemerintahan menjalankan kekuasaan sesuai persetujuan yang diperintah agar menghindari otoritarianisme dan tirani. Liberalisme mengutamakan kepentingan individu, negara dan agama hanya dijadikan sebuah alat. Liberalist adalah seorang yang anti dogmatisme, anti pembakuan nilai atau norma ajaran. Liberalisme membolehkan orang untuk berbuat semaunya, keluar dari norma yang berlaku dan cenderung memberontak dari tradisi. Kaum liberal ingin merevolusi tradisi-tradisi (agama) yang sudah ada, sekalipun dianggap melawan tradisi yang lama diyakini masyarakat umum. Mereka menjunjung tinggi kebebasan, kemerdekaan, anti penindasan, anti deskriminasi, menghargai kesetaraan, menolak segala macam pembatasan atau determinisme.

Liberalisme dalam perkembangannya, mengalami fase perubahan dari liberalisme klasik, liberalisme modern, dan noe liberalisme. Liberalisme klasik merupakan gagasan awal tentang liberalisme. Gagasan tentang kebebasan yang cenderung bersifat negatif, yaitu freedom of atau ‘bebas dari’. Liberalisme klasik bermodel defensif dengan sedikit aturan, tradisi, dan norma agar tidak membelenggu hidup.Orang-orang klasik memiliki pandangan bahwa sistem, ajaran, dan aturan dibuat seminimal mungkin. Semakain minimal aturan semakin bebas namun semakin banyak aturan/tradisi semakin tidak bebas. Masyarakat dikonstruksi untuk mengurangi pembatasan terhadap kebebasan individu maka muncul ruang private dan ruang publik. Perluasan sebanyak-banyaknya ruang private dan menyempitan ruang publik. Urusan sendiri diperbanyak dan urusan publik dipersempit. Peran negara hanya mengatur pertahanan, ketertiban, dan menjamin kebebasan individu.

Kelanjutan dari liberalisme klasik adalah liberalisme modern. Liberalisme klasik adalah ‘bebas dari’ sedangkan liberalisme modern adalah ‘bebas terhadap’. Dalam liberalisme modern, individu dituntut untuk mewujudkan kebebasan positif. Sebuah kebebasan dimana manusia bebas mengembangkan diri, merealisasikan diri dan otonom. Tugas negara hanya membantu memberdayakan masyarakatnya, bertugas untuk membantu individu mewujudkan kebebasan positif.

Liberalisme secara personal memiliki pandangan anti kemapanan, anti feodal, independent, rasional, dan open minded. Mereka kritis terhadap adat istiadat, tradisi, dan konvensi. Mereka tidak mau terikat kepada apa yang sudah ditetapkan atau yang sudah mapan, namun mereka cenderung menerima kemungkinan-kemungkinan lain yang cenderung rasional dan lebih baik. Disamping itu, mereka cenderung menggunakan liberalisme sebagai cara atau metode dalam menjalani kehidupan, bukan sebagai sebuah ajaran seperti agama.

Liberalisme dalam konteks sosial menurut John Stuart Mill dalam bukunya On Liberty (1859), memaparkan sejauh mana kuasa masyarakat bisa diterapkan atas individu. Mill sangat menekankan pembelaan atas kebebasan berpikir dan berpendapat setiap orang. Hal tersebut merupakan prasyarat wajib dalam perkembangan intelektual dan sosial. Kebebasan sosial diartikan sebagai perlindungan dari penguasa politik yang tiran. Ia juga menjelaskan ragam tirani sosial termasuk tirani atas mayoritas terhadap minoritas. Kebebasan sosial berarti membatasi kekuatan penguasa melalui kebebasan politik setiap individu dan HAM melalui konstitusi.

Jika ditempatkan dalam konteks politik, liberalisme menentang absolutisme kekuasaan dan sentralisasi politik. Mengubah sistem kerajaan menjadi sitem republik. Konteks yang lain adalah liberalisme mencurigai segala bentuk kekuasaan karena kuasa cenderung berkembang menjadi besar dan cenderung menindas. Liberalisme mengusung dan membentuk konstitusi untuk membatasi kekuasaan yang menindas. Jika ditempatkan dalam konteks budaya, liberalisme membiarkan pilihan hidup setiap individu. Tidak ada aturan tentang urusan gaya hidup, pola pikir, seni, sastra, seks, pelacuran, perjudian, dll. Liberalisme memberikan beban dan tanggung jawab kepada personal, pemerintah tidak menanggung akibat atas kebebasan tersebut. Tidak ada kontrol budaya dalam hal apapun oleh pemerintah. Begitu pula dalam ranah ekonomi. Penerapkan sistem free market atau pasar bebas, adanya campurtangan dari pihak manapun tidak dibenarkan. Pemerintah tidak berhak menentukan kebijakan ekonomi dan tidak boleh membatasi kepemilikan harta pribadi.

Demikian penjelasan singkat tentang liberalisme. Untuk uraian mengenai Noe-Liberalisme dan Liberalisme dalam Konteks Beragama, akan saya bahas di artikel yang lain. Salam.

Disusun oleh: Eko Romansah

Advertisements

One thought on “Uraian Seputar Paham Liberalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s