Islam dan Paham Liberalisme

Seperti banyak yang diketahui bahwa kedatangan islam di Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Timur Tengah. Namun, yang masih menjadi perdebatan sampai sekarang adalah kapan islam pertama kali datang di Indonesia. Hal ini ditengarai oleh para sejarahwan yang subjektif dalam melakukan penelitian. Mereka kebanyakan melihat sejarah kedatangan islam di Indonesia dari kepentingan sosial politik masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa keluarga islam yang pertama kali datang di pulau Jawa adalah keluarga Fatimah binti Maimun (1082). Hal ini dilihat dari penemuan makam beliau di Gresik, Jawa Timur. Ada yang berpendapat bahwa islam datang ke Indonesia ditandai dari datangnya Syeh Subakir (1404) ke pulau Jawa dan dilanjutkan oleh walisongo untuk disebarkan ke seluruh Nusantara. Hal ini dilihat dari kedudukan Syah Subakir sebagai ahli agama yang memiliki peluang untuk menyebarkan ajaran, sedangkan Fatimah binti Maimun tidak punya kemungkin untuk menyebarkan agama islam. Beliau konteksnya hanya seorang yang beragama islam dan tinggal di pulau Jawa dan tidak untuk menyebarkan islam di pulau Jawa. Jika dilihat dari Islam sebagai sebuah lembaga pemerintahan, yang  pertama kali di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai dan kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Demak Bintaro, Pajang, Mataram Islam, Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon. Seiring berkembangnya waktu, islam menjadi agama yang paling mendominasi di negara ini.

Sekarang, islam sudah terbagi menjadi beberapa aliran atau sekte. Mereka membawa identitas kelompok untuk berlomba menjaga eksistensinya masing-masing. Seperti yang kita tahu, aliran agama islam yang muncul berasal dari organisasi-organisasi masyarakat yang berbeda mazhab (metode fiqih) yang sekarang menjadi sebuah sekte agama. Mulai dari NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, Wahabi, Qadiriyah, Majelis Tafsir Alquran, Hizbut Tahrir, dll. Sesuai perkembangannya, hanya ada dua aliran agama yang mampu mempunyai pengikut yang banyak dan menjadi mayoritas, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlotul Ulama. Keduanya menghasilkan jamaah yang memberikan banyak sumbangsih terhadap negara ini mulai dari masa perjuangan, kemerdekaan, orde lama, orade baru, dan reformasi. Banyak pula cendekiawan mereka yang belajar ke luar negeri dan kembali ke Indonesia untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Kia tahu bahwa banyak tokoh NU seperti Gus Dur, Gus Mus, Sahal Mahfud, Nurcholis Majid, Ahmad Wahib, Ulil Abshar Abdalla, Ahamd Sahal, dll kiprahnya tidak diragukan lagi untuk bangsa ini. Beberapa dari mereka membawa pandangan baru tentang islam yang reformis baik secara konservatif maupun radikal. Hal ini ditengarai oleh pengaruh ideologi atau paham yang mereka dapatkan saat belajar di luar negeri. Mereka mencoba mengawinkan ideologi yang mereka dapatkan dengan agama yang telah lama mereka anut. Di sini, saya akan lebih mengerucut pada perkawinan antar ideologi liberalisme dengan agama islam.

Sebelumnya, saya telah menguraikan tentang paham Liberalisme, baik liberalisme klasik ataupun liberalisme modern. Di Indonesia, paham liberalisme dibawa oleh beberapa cendekiawan NU yang dikawinkan dengan agama Islam agar mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Beberapa cendekiawan seperti Nur Cholis Majid, Ahmad Wahib, dan Ulil Abshar Abdalla secara perlahan memasukkan unsur-unsur liberalisme dalam kerangka pembaharuan islam di Indonesia. Tentunya jika tidak dengan sebuah perkawinan antara ideologi dan ajaran agama, paham liberalisme akan sulit masuk ke Indonesia karena Indonesia mengusung budaya ketimuran yang penuh dengan norma agama. Kebebasan tanpa aturan versi liberalisme sangat bertentangan dengan budaya lokal. Nampaknya, usaha itupun masih menjadi kontroversi dan cenderung ditolak oleh mayoritas muslim Indonesia.

Pada tahu  2002, Ulil Abshar Abdalla menulis di koran Kompas bahwa ada hal-hal dalam agama islam yang harus dipikir ulang atau dikritisi supaya ada perbaikanan dalam kondisi umat islam, terutama dalam hubungan internal antara umat islam sendiri. Pasalnya problem internal lebih sulit untuk dipecahkan daripada problem eksternal. Berbeda dengan para pendahulunya seperti Wahib dan Cak Nur, Ulil secara terang-terangan mendeklarasikan dirinya sebagai pengusung paham baru Islam Liberal dan dipublikasikan di media nasional. Sedangkan Cak Nur dan Wahib masih bersifat sembunyi-sembunyi dalam membawa paham tersebut. Mereka cenderung memasukkan ideologi islam liberal dengan kiasan-kiasan tersembunyi dalam tulisan mereka, kurang lugas dan tidak to the point. Sementara gaya tulisan Ulil sangat lugas dan tajam dibandingkan gaya tulisan Cak Nur sehingga reaksi masyarakat pada waktu itu sangat keras. Selain Cak Nur, Ahmad Wahib pun berbeda dengan Ulil, ia menulis gagasannya sebagai catatan harian atau diary dan ketika gagasannya dipublikasikan, ia sudah meninggal. Sekarang tinggal satu tokoh yang dibidik oleh publik muslim Indonesia yaitu Ulil Abshar sebagai pembawa gagasan Islam Liberal.

Dalam sebuah wawancara dengan tema Manusia-Manusia Indonesia, Ulil mengatakan bahwa pada mulanya istilah islam liberal tidak begitu dipersoalkan. Ada unsur politis yang membuat dia didiskreditkan dengan tulisannya dalam surat kabar tersebut. Jika cak Nur menandai gagasannya menggunakan kata pramadina, gagasan Ulil langsung menggunakan kata islam liberal. Ulil mengatakan bahwa sebetulnya istilah liberal di luar negeri bukan merupakan sebuah image yang jelek atau kotor. Namun berbeda di Indonesia, kata liberal telah menjadi momok yang sangat manakutkan dan perlu dijauhi. Meskipun demikian, Ulil tetap kukuh dengan gagasannya dan membuat sebuah jaringan resmi yang bernama jaringan islam liberal. Jaringan tersebut didirikan dengan teman-temannya dan akhirnya mendapatkan donasi dari Asia Foundation sebesar 1,4M. Sampai saat ini, jaringan islam liberal (JIL) masih terus hidup di Indonesia.

Jaringan islam liberal ini memberikan nuansa baru terhadap kehidupan beragama di Indonesia sebagaimana sebuah tawaran beragama dengan mengedepankan kebebasan berpikir, bersifat kritis terhadap tradisi lama yang dinilai tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Namun tawaran tersebut belum mampu mendobrak tradisi islam di Indonesia yang masih bersifat tertutup. Masyarakat muslim Indonesia lebih menyukai cara beragama yang santun dan menenangkan. Ulil menyebutnya dengan istilah islam aspirin, seperti obat yang menyembuhkan dan menenangkan. Sedangkan Islam liberal menempatkan diri sebagai pedal gas yang ditarik kencang, membuat muslim di Indonesia merasa ketakutan. Mereka takut akan adanya perubahan, sebuah perubahan yang menuju pada islam yang lebih modern dan searah dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Jika menilik nama Ulil Absar Abdalla, beliau lahir di kalangan pesantren (Pati) dan sekaligus menantu dari ulama besar NU, Gus Mus. Bagi Ulil, dia sangat mencintai ilmu-ilmu pesantren yang kental dengan tradisi seperti fiqih, kalam, tasawuf, dll. Sebetulnya, dari tradisi tersebut menunjukkan bahwa islam sangat kaya dan beragam. Hanya saja keluasan ilmu tersebut tidak banyak didapatkan oleh muslim yang belajar di Indonesia saja. Menurut Ulil, muslim Indonesia  sendiri lah yang mempersempit keluasan islam dengan wawasan yang terbatas. Padahal yang semestinya, seperti yang diajarakan oleh ulama besar dunia seperti Al Ghazali, Ibnu Shina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Abu Bakar Arrazi dll, mencerminkan bagaimana islam yang begitu liberal, bebas dalam mengembangkan pikiran dan gagasan, terbuka untuk semua. Telah terjadi pendangkalan pikiran manusia Indonesia yang selalu berpikir in box system, mereka jarang menggunakan pola berpikir out box system. Hal ini yang menyebabkan Islam Liberal belum mampu diterima sepenuhnya oleh islam di Indonesia.

Dilain sisi, keberadaan Islam Liberal mendapat kritisi yang tajam oleh pakar ideologi di Indonesia. Salah satunya oleh akademisi Universitas Indonesia. Menurut Prof. Rocky Gerung, salah satu dosen filsafat di FEB UI, beliau mengatakan bahwa gagasan Ulil yang mencoba mengawinkan Islam dengan liberalisme merupakan gagasan yang tidak sebanding. Dilihat dari sudut pandang filsafat, bahwa sebuah ideologi yang bersumber dari filsafat masih bersifat contestable dan testable. Hal ini didasarkan pada ilmu pengetahuan yang harus bergerak untuk mencapai kebenaran yang mutlak. Ketika dikawinkan dengan sebuah agama yang besifat incontestable, mutlak, tidak bergerak dan tidak bisa dirubah sedikitpun, maka perkawinan dua subtansi itu tidak pas. Pasalnya, agama bersumber dari wahyu Tuhan yang bersifat absolute dan tidak ada kemungkinan untuk direvisi, sedangkan ideologi liberal masih memiliki kesempatan untuk dirubah. Jika islam liberal dibawa ke dalam lingkup akademisi, maka gagasan tersebut sudah gugur. Prof. Rocky menambahkan bahwa Ulil merupakan seorang liberalis yang religius, boleh saja. Tapi kata islam liberal tidak match, terlebih menempatkan kata islam di depan kata liberal.

Dinamika dalam kehidupan beragama Indonesia memang beragam. Dalam konteks ini penulis hanya membahas bagaimana reaksi masyarakat Indonesia ketika ideologi liberalisme diterapkan di Indonesia. Terlebih ketika sebuah paham yang digabungkan dengan kesakralan agama. Ideologi tersebut telah masuk dalam ranah sensitif dan rentan menimbulkan konflik sosial. Penulis hanya ingin berbagi bahan bacaan tentang bagaimana sebuah idelogi lahir dan bergerak hingga akhirnya sampai pada otak dan pikiran kita. Selayaknya sebuah ilmu pengetahuan, yang tanpa kita sadari tiba-tiba ada dihadapan kita dan harus kita telaah dengan benar. Agar kita tidak mudah mengambil sikap yang ikut-ikutan, yang mengkafirkan orang lain tanpa melihat teks dan konteks, agar kita tidak mudah disetir oleh dunia dan yang terpenting adalah, agar kita tidak mudah menyukai dan membenci. Saya ulangi, agar kita tidak mudah menyukai dan membenci. 🙂 Salam menulis.

Disusun oleh Eko Romansah

Advertisements

One thought on “Islam dan Paham Liberalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s