Pandangan Liberalisme Terhadap Agama, Sebuah Pendekatan Sejarah

Menanggapi sebuah kritik pembaca terhadap artikel penulis sebelumnya yang berjudul Islam dan Liberalisme, maka penulis memutuskan untuk melengkapi konten dalam analisa perkembangan islam liberal di Indonesia dengan dasar yang lebih kuat. Di sini penulis akan menampilkan ulasan pendek tentang sejarah munculnya paham liberalisme yang mengambil sikap kontra terhadap agama. Dengan mencermati beberapa ulasan filsafat yang diberikan oleh Dr. Fahrudin Faiz (dosen filsafat islam di UIN Yogyakarta) dan setelahnya dirangkum ulang dengan tambahan wawasan filsafat barat yang dipahami oleh penulis, maka sangat rasional jika seorang Ulil dkk memiliki pandangan liberal terhadap agama islam. Jika dilihat dari gejolak sejarah lahirnya liberalisme klasik dengan liberalisme modern dan sejarah perkembangan liberalisme ke dunia islam. akan tetapi, terjadi pergeseran pola liberalisme Barat yang telah disesuaikan dengan corak agama Timur Tengah.

Pergeseran tersebut terletak pada sikap liberalis terhadap agama, bahwa liberalisme klasik menolak dan menentang penuh adanya sebuah agama yang dinilai tidak rasional. Sedangkan liberalisme modern tidak menolak adanya agama namun menggabungkan keduanya. Terkait islam liberal yang terlah disinggung dalam artikel sebelumnya (islam dan liberalisme), jika kelompok pengusung jaringan islam liberal di Indonesia hanya menggunakan liberalisme sebagai metode untuk melakukan pembaharuan islam, masih bisa diterima. Akan tetapi, penulis juga meragukan apakah sepenuhnya lingkaran liberalisme digunakan dalam kehidupan beragama. Jika jaringan islam liberal berusaha menggabungkan keduanya (perkawinan dua substansi) maka pendapat prof. Rocky mutlak keberanannya. Secara empiris istilah islam liberal salah dalam mengambil identitas.

Mari menilik sebentar bagaimana perubahan tatanan dunia terjadi pada masa silam. Bagaimana kedudukan agama dikalahkan dengan ilmu pengetahuan yang rasional dengan segala dasar filsafat, science, dan ideologi baru yang di dalamnya menghidupkan liberalisme. Liberalisme keagamaan muncul pada abad pencerahan (enlightenment era) pada abad 17-19, saat rasionalisme berkembang. Rasionalisme mengedepakan pemikiran bahwa segala sesuatu yang tidak rasional maka dianggap hanya sebuah mitos. Berpijak pada liberalisme John Lock dan Thomas Hobbes dalam liberalisme klasik, Rene Descarte sebelumnya telah melandasi pandangan tersebut dengan dasar-dasar rasionalisme, bahwa manusia berpikir maka manusia ada. Rasio manusialah yang akan menuntut mereka pada sebuah kebenaran. Kemudian dilanjutkan oleh David Hume dan Immanuel Kant dengan perbedaan dunia manusia dengan dunia tuhan. Kant mengatakan bahwa rasio manusia tidak dapat menembus rasio Tuhan yang menjadi dasar untuk menemukan kebenaran objektif. Mereka meragukan segala teori yang tidak rasional termasuk dogmatisme agama. Bahwa agama adalah sesuatu yang non-rasional dan berlawanan dengan kebebasan yang rasional. Pendapat ini muncul untuk mengkritik dominasi keagamaan pada waktu itu yang ditandai dengan lahirnya protestanisme.

Protestanisme adalah sebuah gerakan reformasi yang menggugat dominasi katolik yang cenderung hegemonik lewat organisasi gerejanya. Gerakan ini menggunakan pola berpikir rasionalisme, bahwa sesuatu yang kita lakukan harus menggunakan rasio. Kemudian romantisme, bahwa basis ide adalah kebebasan. Setiap orang bebas memilih dan bebas bertindak dengan tanggung jawab atas segala sesuatunya. Yang terakhir adalah naturalisme, bahwa semua yang ada di alam semesta ini sudah ada mekanisme baku, seperti kosmologi. Nah, cara berpikir itu lah yang membuat doktrin agama runtuh pada abad pencerahan. Agama di Barat yang pada mulanya memperbudak manusia menjadi hancur karena kesadaran akan kebebasan. Lalu, bagaimana perkembangan kaum liberlisme sampai ke Asia?

Nampaknya gaya liberalisme Barat mulai diadopsi oleh masyarakat Asia, Timur Tengah. Setelah kedatangan Napoleon Bonaparte masuk Mesir. Ketika Prancis menjajah Mesir, Napoleon membawa ratusan ilmuan Prancis untuk melakukan pencerahan di Mesir sehingga pembaharuan ilmu pengetahuan terjadi secara besar-besaran. Termasuk pada paham liberlisme yang mulai ditularkan oleh Prancis kepada dunia Timur Tengah. Para pemikir islam pada waktu itu yang mengembangkan paham liberalisme Barat di Mesir dan sekitarnya seperti Rifaah altahtawi, Jamaludin Alghoni, Muhammad Abduh, beserta murid-muridnya. Lalu kemudian diduga masuk ke Indonesia pada periode ulama Ahmad Dahlan dan Hasym Ashari dengan segala pembaharuan Islam sebelumnya yang diteruskan oleh Gus Dur, Caknur, dan sampai pada Ulil. Disini penulis memasukkan pola dasar liberalisme dalam menyikapi adanya agama, terlepas apakah pola ini dipakai oleh JIL (Jaringan Islam Liberal) atau tidak dalam menciptakan suatu identitas baru di kehidupan keagamaan Indonesia.

Cara berpikir liberalis terhadap agama yang ada di dunia ini adalah menggunakan asumsi bahwa agama untuk manusia. Adanya agama harus jelas bermanfaat untuk manusia dan bukan sebaliknya, agama yang merugikan manusia. Mereka mengkritik agamawan yang memiliki pola berpikir yang terbalik, dengan agama yang menuntut manusia untuk berkorban demi agama. Jadi, agama yang harus menguntungkan manusia bukan manusia yang dirugikan dalam bentuk tuntutan-tuntutan atas adanya agama. Kemudia hak otonom manusia dijunjung tinggi. Manusia bebas manafsirkan agamanya masing-masing dengan segala penerapannya di dalam kehidupan. Hal ini bertujuan untuk mencegah doktrinasi oleh kaum agamawan yang memanfaatkan masyarakat umum demi kepentingan pribadi atau kelompok. Masyarakat berhak menafsirkan agamanya sendiri tanpa harus mengikuti hasil tafsiran agamawan karena pada dasarnya kedudukan manusia setara.

Dalam menyusun kerangka berpikir untuk menganalisa dogma agama, kaum liberalisme berdasarkan wawasan budaya. Mereka menggunakan pendekatan budaya untuk merasionalkan kejanggalan-kejanggalan dalam dogma agama. Apakah kondisi budaya di suatu tempat cocok dengan aspek historis adanya agama. Jadi, agama yang harus menyesuaikan kearifan lokal bukan kearifan loak harus mengikuti agama. Disamping itu kontekstualitas menjadi sangat penting bagi kaum liberal untuk mengkritik dogma agama yang tidak rasional. Relevansi doktrin/fatwa dengan keadaan saat ini juga menjadi sistem berpikir kaum liberal. Lalu, pada posisi manakah islam liberal berkerja?

Jika mereka menggunakan sistem saring kopi, yaitu membuang ampas dan menggunakan sari kopi, masuk akal. Bahwa mereka mengambil sebagian pola liberalisme yang sejalan dengan budaya Indonesia untuk memperbaharui dunia islam secara internal dan membuang kebebasan radikalnya, masuk akal. Namun konteksnya lebih tepat menggunakan liberalisme konservatif atau bisa jadi islam konservatif atau muslim liberal, mungkin lebih pas. Artikel ini disusun oleh penulis berdasarkan wawasan yang terbatas, jika ada kekurangan harap dimaklumi, dan saya berharap dapat menemukan analisa yang lebih mendalam dan mencerahkan. Salam menulis.

 

Disusun oleh Eko Romansah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s