Hermeneutika Menurut Martin Heidegger

Martin Heidegger lahir pada tahun 1889 di Messkirch, di wilayah Black Forest dari Baden-Wurttemberg di Jerman. Ia belajar di bawah bimbingan Edmund Husserl (1859-1938) di Freiburg, dan menjadi asistennya. Setelah satu musim Heidegger menggantikan Husserl sebagai dekan filsafat di Freiburg. Tidak seperti Kierkegaard, ia adalah pembuat-sistem dan filsuf professional. Ia menerbitkan karya paling pentingnya Being and Time, pada tahun 1927 (L. Semith dan W. Reaper, 2000:81).

Heidegger mempunyai keterlibatan singkat dengan Nazisme pada tahun 1933 setelah Hitler berkuasa. Meskipun ia menarik diri dari politik dalam waktu satu tahun setelah kehancuran terjadi, dan sikap diam totalnya mengenai masalah politik setelah perang, banyak orang telah menyalahkannya. Ia mengajar di Freiburg hingga tahun 1944, ketika ia diberhentikan dari mengajar oleh sekutu sampai tahun 1951. Ia pensiun pada tahun 1959 dan meninggal pada tahun 1976. Ia dikubur di halaman Gereja yang ketika ia masih anak-anak sering ia lalui dalam perjalanannya menuju sekolah (L. Semith dan W. Reaper, 2000:81).

Yang menakjubkan dari kehidupan Heidegger adalah bahwa hanya sedikit yang mewah dalam kehidupannya, ia hampir tidak pernah melakukan perjalanan dan jarang pergi keluar negeri. Seolah-olah seluruh keberadaanya dihabiskan dalam pemikiran abstrak. Karya terpenting Heidegger adalah Being and Time (ada dan waktu). Karya ini berpengaruh besar dan luas serta masih menjadi salah satu karya filsafat yang paling banyak dibicarakan pada abad ke-20 (L. Semith dan W. Reaper, 2000:81).

Martin Heidegger (1889-1976) memulai filsafatnya dengan suatu pertanyaan sederhana yang mendasar. “Mengapa bisa ada sesuatu, dan bukan hanya ketiadaan?”, sebagai seorang anak, Heidegger menemukan dirinya tenggelam dalam kekaguman mendalam akan “Ada”, ia ingin tahu mengapa suatu benda “Ada”. Ia secara khusus terobsesi oleh “Ada-nya” benda-benda, kualitas khusus yang membuat sesuatu itu “Ada” dan yang ia yakini telah diabaikan oleh para filsuf Barat sejak zaman Yunani Kuno (L. Semith dan W. Reaper, 2000:81).

“Ada-nya” ini diyakini oleh Heidegger sebagai bagian dari “Ada”. “Ada” berarti “Di dalam” segala hal di dunia ini tanpa benar-benar “Menjadi” dunia. Karena Heidegger ingin menyelidiki kodrat “Ada” di dunia sebagai keseluruhan dan tidak hanya di dalam manusia, ia menolak istilah “Eksistensialis”. Ia tertarik di dalam eksistensi manusia hanya sebagai gerbang menuju kepahaman akan eksistensi sebagai keseluruhan (L. Semith dan W. Reaper, 2000:81).

Menurut Palmer (2005:146) Heidegger memberikan enam pokok pemikiran dalam teori hermeneutika, di antaranya : 1) Fenomenologi sebagai hermeneutik, 2) Hakikat pemahaman, 3) Dunia dan hubungan kita dengan objek di dunia, 4) Kebermaknaan pra-predikatif, pemahaman, dan interpretasi, 5) Kemustahilan ketiadaan pra-asumsi interpretasi, dan 6) Karakter derivatif pernyataan. Dari enam pokok pemikiran tersebut, penulis hanya menggunakan tiga, yakni: 1) Fenomenologi sebagai hermeneutik, 2) Dunia dan hubungan kita dengan objek di dunia, serta 3) Kebermaknaan pra-predikatif, pemahaman, dan interpretasi.

Fenomenologi Sebagai Hermeneutika

Fenomenologi menurut Heidegger akar kata yunani Phainomenon atau Phainesthai, dan Logos. Heidegger mengatakan, Phainomenon bermakna yang memperlihakan dirinya sendiri, sesuatu yang termanifestasi, diilhami. Kata pha sama dengan kata Yunani phos, yang berarti cahaya atau terang benderang, sesuatu yang dapat dimanifestasikan, dapat terlihat. Dengan begitu, fenomena merupakan kumpulan apa yang dapat diungkap ke dalam sinaran hati, atau dapat dibawa ke dalam cahaya, apa yang secara sederhana dapat diidentifikasikan oleh orang yunani dengan ta onta, das Seiende, apa adanya (Palmer, 2005:146).

Akhiran, ology-ology dalam Phenomenology berakar dalam kata yunani Logos. Heidegger menyebutkan bahwa logos adalah sesuatu yang dipahami dalam pembicaraan, makna dalam kata logos dengan begitu adalah sesuatu yang dengan sendirinya membiarkan sesuatu itu muncul. Logos tidak diartikan Heidegger sebagai sesuatu seperti “Nalar” atau “Landasan” namun lebih mengasumsikan fungsi pembicaraan, yang membuat baik nalar maupun landasar tersebut menjadi mungkin (Palmer, 2005:146).

Ia mempunyai fungsi yang tersembunyi menunjuk pada fenomena. Dengan kata lain, logos mempunyai sesuatu sebagai fungsi karena ia membiarkan sesuatu itu terlihat sebagai sesuatu. Dalam Being and Time Heidegger menemukan suatu bentuk akses dalam kenyataan bahwa seseorang memiliki eksistensi dirinya, yang selaras dengan adanya pemahaman tertentu tentang apa sebenernya keberadaan itu. Ia bukanlah pemahaman yang dibentuk, namun secara historis terbentuk, terakumulasikan di dalam pemahaman perjumpaan fenomena yang sebenarnya (Palmer, 2005:146).

Dengan begitu, keberadaan tertentu saja dapat dipertanyakan melalui sesuatu analisis bagaiamana kemunculan itu terjadi. Ontologi harus menjadi fenomenologi. Ontologi harus beralih kepada proses pemahaman dan interpretasi melalui apa sesuatu itu muncul. Ia harus dapat membuka minat dan arah eksistensi manusia, ia harus dapat memperlihatkan struktur keberadan di dunia secara jelas (Palmer, 2005:147).

Dunia dan Hubungan Kita dengan Objek di Dunia

Kata “dunia” dalam pemikiran Heidegger tidaklah bermakna lingkungan kita, yang tergambarkan secara obyektif, alam, yang nampak dalam tatapan sains. Ia lebih dekat pada apa yang di sebut dunia personal kita. Dunia bukanlah keseluruhan dari keberadaan namun merupakan keseluruhan dimana manusia mendapati dirinya sesudah terpatrikan di dalamnya. Yang dikungkung oleh kemanifestasiannya sebagai anugrah melalui sesuatu yang selalu merupakan praperolehan, yang meliputi pemahaman (Palmer, 2005:149).

Keberkaitan dengan  kesamaran dunia merupakan kesamaran obyek tertentu dalam dunia, di mana seseorang sehari-harinya berhubungan dengan keberadaannya. Alat-alat yang digunakan sehari-hari, gerak tubuh yang dibentuk tanpa pemikiran, kesemuanya menjadi transparan. Pada saat ini kita dapat mengamati suatu fakta yang signifikan makna objek-objek ini terletak dalam hubungannya dengan keseluruhan makna dan maksud yang saling berhubungan secara struktural. Dalam keterperincian itu, objek disinari, timbulah secara langsung dari dunia (Palmer, 2005:149).

Mengutip dari contoh yang sangat terkenal dari Being and Time, sebuah palu yang semata-mata ada merupakan sesuatu yang dapat diukur beratnya, dan dikategorikan sebagai alat dibandingkan dengan palu-palu yang lain; sebuah palu yang rusak yang pada saat bersamaan menunjukkan apa itu palu. Pengalaman ini mengasumsikan prinsip hermeneutic; bahwa keberadaan sesuatu diungkapkan tidak untuk tatapan analitis kontemplatif namun dalam momen di mana ia muncul secara tiba-tiba dari kesembunyiannya dalam konteks dunia yang betul-betul fungsional (Palmer, 2005:149).

Begitu pula karakter pemahaman akan sangat baik di peroleh tidak melalui katalog analitas dari sifat-sifatnya, juga tidak dalam alur sepenuhnya dari fungsi utamanya, namun di saat ia terperincikan, yang tentunya di saat sesuatu yang harus dimiliki hilang (Palmer, 2005:149).

Kebermaknaan Pra-Predikatif, Pemahaman dan Interpretasi

Fenomenologi perincian yang secara sesaat memancarkan keberadaan sebuah alat, sebagaimana yang kita lihat, mengarah pada “Dunia” yang sangat luas di mana kita eksis. Dunia ini lebih dari sekedar lahan aktivitas pra-sadar pemikiran dalam persepsi ia merupakan lahan dimana resistensi aktual dan posibilitas dalam stuktur keberadan membentuk pemahaman. Ia merupakan lahan di mana temporalitas dan historisitas keberadaan ada secara radikal, dan merupakan tempat dimana keberadaan menterjemahkan dirinya dalam kebermaknaan, pemahaman dan interpretasi, singkat kata, ia merupakan lahan proses hermeneutic, suatu proses di mana keberadaan menjadi tertematisasikan sebagai bahasa. Pemahaman harus dilihat sebagai sesuatu yang melekat dalam konteks ini, dan interpretasi hanya merupakan penterjemahan eksplesit dari pemahaman (Palmer, 2005:150).

Dengan demikian, interpretasi bukanlah persoalan pengarahan nilai terhadap suatu objek yang kosong, karena apa yang ditemukan memunculkan sesuatu yang telah dilihat suatu hubungan partikular. Bahkan dalam pemahaman, sesuatu di dunia ini dilihat sebagai ini atau sebagai itu. Interpretasi menterjemahkan kata ini dengan “sebagai” (Palmer, 2005:151).

Sebelum setiap pernyataan tematik terdapat landasan pemahaman. Heidegger menyatakannya secara singkat: “seluruh pengelihatan sederhana yang bersifat pra-predikatif dari dunia yang tidak dapat dilihat dengan sendirinya merupakan pengelihatan yang sudah dipahami (diinterpretasikan)” (Palmer, 2005:151).

Ketika pemahaman secara eksplisit menjadi interpretasi, sebagai bahasa, faktor ekstra subjektif lain mulai bekerja, karena “bahasa telah menyembunyikan suatu bentuk gagasan yang berkembang dalam dirinya sendiri”, suatu “cara pandang yang sudah terbentuk”. Pemahaman dan kebermaknaan secara bersamaan merupakan basis bagi bahasa dan interpretasi (Palmer, 2005:151).

Dalam kerja berikutnya hubungan bahasa dan keberadaan bahkan lebih ditekankan, yang dengan begitu keberadaan dengan sendirinya bersifat linguistik: misalnya Heidegger menulis dalam karyanya Introduction to Metaphysics bahwa “Kata dan bahasa bukan selubung yang dengannya sesuatu dibungkus untuk dijual bagi orang yang menulis atau membicarakannya. Hanya dalam kata-kata dan bahasalah sesuatu pertama kali muncul kedalam keberadaannya”. Inilah makna di mana perkataan Heidegger yang lebih terkenal “Bahasa merupakan tempat tinggal keberadaan” harus diinterpretasikan (Palmer, 2005:152).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s