Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum

Sosiologi sastra merupakan suatu jenis pendekatan terhadap sastra yang memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda dari yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyakarat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut. Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya (Levine dalam Soemanto 1993:56).

Bila berbagai teori sastra dapat dijadikan pegangan untuk pemahaman mengenai sastra, terbuka beberapa kemungkinan definisi sosiologis tentang sastra. Ada beberapa pengertian yang didasarkan pada teori Auguste Comte, teori Karl Marx, teori Emil Durkheim, teori Max Weber, dan juga teori Georg Simmel. Teori sosiologi Comte didasarkan pada tingkat perkembangan intelektual manusia sehingga terbangun teori tiga tahap perkembangan masyarakat, yaitu tahap teologis, metafisis, dan positif. Dalam teori kerangka yang demikian, sastra dapat dipahami sekaligus sebagai representasi dari perkembangan intelektual dan sekaligus organisasi sosial. Sebagaimana lembaga-lembaga sosial lainnya, sastra merupakan aktivitas seni bahasa yang dibingkai oleh tingkat perkembangan intelektual yang hidup pada zamannya. Hubungan antara sastra dengan lembaga-lembaga sosial yang lain dapat disebut homolog, yaitu sama-sama merepresentasikan tingkat perkembangan intelektual yang menjadi bingkai dari keseluruhan organisasi sosial yang melingkunginya.

Bila ditempatkan dalam kerangka teori Marx, sastra dapat ditempatkan sebagai salah satu superstruktur yang menjadi kekuatan reproduktif dari infrastruktur atau struktur sosial yang berdasarkan pembagian dan relasi sosial secara ekonomis. Sastra merupakan institusi sosial yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pertentangan antarkelas di dalam masyarakat, dapat sebagai kekuatan konservatif yang berusaha mempertahankan struktur sosial yang berlaku ataupun sebagai kekuatan progresif yang berusaha merombak struktur tersebut demi terbangunnya sebuah struktur sosial yang baru di bawah dominasi kelas sosial yang baru pula.

Dalam kerangka teori sosiologi Durkheim, sastra terutama sekali akan bertalian dengan pembangunan solidaritas sosial yang menjadi kekuatan utama terbentuknya tatanan sosial. Jika dianalogkan dengan fungsi agama di dalam masyarakat, sastra berfungsi memberikan pengalaman kepada anggota masyarakat akan adanya sebuah realitas yang melampaui batas-batas dunia pengalaman langsung individual. Selain itu, isi karya sastra sendiri dapat analog dengan dunia sosial, merepresentasikan dan sekaligus memproyeksikan secara imajiner pola-pola pembagian dan relasi-relasi sosial yang ada dalam masyarakatnya.

Teori sosiologi Weber berpusat pada konsep tindakan dan pola-pola tindakan sosial yang menjadi dasar dari struktur sosial secara keseluruhan. Setidaknya, ada tiga tipe tindakan sosial yang dikemukakan Weber, yaitu tindakan yang berorientasi tujuan, tindakan yang berorientasi nilai, dan tindakan tradisional. Sastra dapat menempati satu atau beberapa kemungkinan pola tindakan tersebut.

Jika ditempatkan ke dalam pola tindakan pertama, sastra menjadi sebuah tindakan reflektif-rasional yang mempunyai tujuan yang jelas dan disadari dan berusaha dicapai dengan menggunakan cara atau alat tertentu yang dianggap paling efektif. Jika ditempatkan dalam kategori tindakan kedua, sastra dapat dipahami sebagai tindakan yang telah mempunyai tujuan yang tetap, mutlak, sebagaimana agama. Variasi yang timbul hanya terletak pada kemungkinan cara atau alat untuk mencapai tujuan tersebut. Bila ditempatkan dalam kategori ketiga, sastra merupakan tindakan yang dilakukan secara tradisional tanpa menyadari cara ataupun tujuannya. Cara dan tujuan merupakan sesuatu yang sudah diterima secara tradisional dan tidak disadari.

Berbagai tipe tindakan yang telah dijelaskan sebelumnya menentukan pula pola organisasi sosial secara keseluruhan. Masyarakat tradisional amat dikuasai oleh pola tindakan tradisional, sedangkan masyarakat modern dikuasai oleh pola tindakan yang rasional, yang berorientasi pada tujuan di atas. Dalam pengertian yang demikian, pengertian sastra tidak hanya dapat dilihat dari pola tindakan yang dijalankannya, melainkan juga dari pertaliannya dengan organisasi sosial secara keseluruhan. Dalam konteks masyarakat modern, sastra akan cenderung bersifat rasional, dalam masyarakat religius sastra berorientasi nilai, sedangkan dalam masyarakat tradisional akan berkecenderungan tradisional pula.

Dalam pengertian teori sosiologi Simmel, sastra tentu saja dapat ditempatkan sebagai salah satu interaksi sosial yang mikro yang sekaligus merepresentasikan struktur sosial yang makro. Sebagai salah satu bentuk interaksi sosial, sastra dapat dianggap sebagai sebuah lingkungan mikro yang di dalamnya terdapat relasi-relasi subordinasi dan superordinasi antarkomponen yang terkandung di dalamnya. Dapat pula sastra sebagai salah satu komponen interaksi yang terlibat dalam relasi superordinasi dan subordinasi dengan kekuatan-kekuatan sosial lain yang ada di luarnya. Sebagai representasi, sastra dapat membangun sebuah dunia imajiner, sebuah lingkungan interaksi imajiner, yang mencerminkan pola interaksi yang terdapat dalam dunia sosial yang nyata (Faruk 2012: 52-55).

Dalam sosiologi sastra, sastra dipahami dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya. Di samping itu, sosiologi sastra juga menghubungkan karya sastra dengan masyarakat yang melatarbelakanginya, serta menemukan kaitan langsung antara karya sastra dengan masyarakat. Munculnya masyarakat menurut Simmel terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang mana dalam proses tersebut individu akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi, yang biasa disebut dengan istilah sociation (sosiasi).

Masyarakat lebih daripada jumlah individu yang membentuknya lalu ditambah dengan pola interaksi timbal balik dimana mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi, masyarakat tidak akan pernah ada sebagai suatu benda objektif yang terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu terdiri atas kenyataan proses interaksi timbal balik. Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya pada individu yang riil) dan pandangan realis (yang mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersifat independen dari individu yang membentuknya).

Contoh terbentuknya masyarakat menurut Simmel, misalnya sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di stasiun tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi, jika ada pengumuman yang mengatakan bahwa kereta akan tertunda beberapa jam karena tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang di sampingnya, dan di sanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat yang muncul akan sangat rapuh dan sementara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya itu bersifat sementara saja.

Proses munculnya masyarakat sangat banyak macamnya, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing di tempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosiasi ini mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi satu masyarakat (kelompok/sosiasi). Masyarakat ada pada tingkat tertentu dimana dan apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s