Psikoanalisis Humanistis Menurut Erich Fromm

Asumsi dasar Fromm adalah bahwa kepribadian individu dapat dimengerti hanya dengan memahami sejarah manusia “ Diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta kepribadian dan psikologi harus didasari oleh konsep antropologis – filosofis akan keberadaan manusia ”(Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:228).

Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist (2013:228) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “ tercerai berai ”dari kesatuan prasejarahnya dengan alam. Mereka tidak memiliki insting kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, melainkan mereka telah memperoleh kemampuan bernalar – keadaan yang disebut Fromm sebagai dilema manusia. Manusia mengalami dilema dasar ini karena mereka telah terpisah dengan alam, namun memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa diri mereka telah menjadi makhluk yang terasing. Oleh karenanya, kemampuan bernalar manusia adalah anugerah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini membiarkan manusia bertahan, namun di sisi lain, hal ini memaksa manusia berusaha untuk menyelesaikan dikotomi dasar yang tidak ada jalan keluarnya. Fromm menyebut hal tersebut sebagai “dikotomi eksistensial” (existensial dichotomies) karena hal ini berakar dari keberadaan atau eksistensi manusia. Manusia tidak dapat menghapuskan dikotomi eksistensial ini. Mereka hanya bisa bereaksi terhadap dikotomi ini tergantung pada kultur dan kepribadian masing – masing individu.

Sebagai hewan, manusia terdorong oleh kebutuhan – kebutuhan fisiologis, seperti rasa lapar, seks, dan keamanan. Akan tetapi, mereka tidak akan pernah menyelesaikan dilema mereka sebagai manusia dengan memenuhi kebutuhan – kebutuhan hewani ini. Hanya kebutuhan manusia khusus yang bisa mendorong manusia menuju ikatan kembali dengan dunia alam. Kebutuhan – kebutuhan eksistensial telah muncul saat evolusi budaya manusia, tumbuh dari usaha mereka untuk menemukan jawaban atas keberadaan mereka dan untuk menghindari ketidakwarasan. Fromm menyatakan bahwa satu perbedaan penting antara manusia yang sehat secara mental dan manusia neurotik atau tidak waras adalah bahwa manusia yang sehat secara mental menemukan jawaban atas keberadaan mereka – jawaban yang lebih sesuai dengan jumlah kebutuhan manusia. Dengan kata lain, individu yang sehat lebih mampu menemukan cara untuk bersatu kembali dengan dunia, dengan secara produktif memenuhi kebutuhan manusiawi akan keterhubungan, keunggulan, keberakaran, kepekaan akan identitas, dan     kerangka orientasi (Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:229).

Keterhubungan

Kebutuhan manusia atau kebutuhan eksistensial pertama adalah keterhubungan (relatedness), dorongan untuk bersatu dengan satu orang atau lebih. Fromm menyatakan tiga cara dasar bagi manusia untuk terhubung dengan dunia: (1) kepasrahan, (2) kekuasaan, dan (3) cinta. Seseorang dapat pasrah pada orang lain, kelompok, atau intuisi agar menjadi satu dengan dunia. “Dengan cara ini keberadaannya sebagai individu tidak lagi terpisah dan ia menjadi bagian dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar dari dirinya dan merasakan jatidiri dalam hubungannya dengan kekuasaan yang dimiliki oleh siapapun tempat manusia tersebut memasrahkan dirinya”. Sama halnya seperti orang-orang pasrah atau submisif mencari hubungan dengan orang-orang dominan, pencari kekuasaan menyambut orang-orang pasrah yang menjadi pasangannya. Ketika seorang dominan dan seorang pasrah (submisif) saling menemukan, mereka sering kali menciptakan hubungan simbiosis, yang memuaskan untuk keduanya. Walaupun simbiosis tersebut menyenangkan, hal ini menghalangi pertumbuhan menuju intergritas dan kesehatan psikologis. Keduanya “hidup dari satu sama lain, memuaskan kebutuhan mereka akan kedekatan, namun kekurangan kekuatan dari dalam diri sendiri dan ketergantungan diri yang membutuhkan kebebasan dan kemandirian” (Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:230).

Orang-orang dalam hubungan simbiosis saling tertarik bukan disebabkan oleh cinta, namun karena putus asa dalam memenuhi kebutuhan akan keterhubungan, yang tidak akan terpuaskan secara utuh dengan hubungan seperti itu. Kesatuannya didasari oleh rasa permusuhan. Orang-orang dalam hubungan simbiosis menyalahkan pasangan mereka karena mereka tidak memuaskan kebutuhan yang lain secara utuh. Mereka akan mencari kepasrahan atau kekuasaan tambahan dan hasilnya, mereka akan semakin bergantung pada pasangan mereka dan semakin tidak individual (Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:230).

Keunggulan

Seperti hewan lainnya, manusia dilempar ke dunia tanpa persetujuan dan keinginan mereka serta ditiadakan dari dunia – juga tanpa persetujuan dan kemauan mereka. Akan tetapi, berbeda dengan hewan, manusia tergerak oleh kebutuhan akan keunggulan        (transcendence) yang didefinisikan sebagai dorongan untuk  melampaui keberadaan yang pasif dan kebetulan menuju “alam penuh makna dan kebebasan”. Sebagaimana dicari melalui pendekatan positif dan negatif. Manusia dapat mengungguli sifat pasif mereka baik dengan cara menciptakan maupun menghancurkan kehidupan. Meskipun hewan lainnya dapat menciptakan kehidupan melalui reproduksi, hanya manusia yang menyadari dirinya sebagai pencipta. Selain itu, manusia juga menjadi kreatif dengan banyak cara lain. Mereka dapat berkreasi dalam seni, agama, gagasan, hukum, produksi materi dan cinta. Dalam anatomi sifat merusak manusia (Anatomy of Human Destructiveness), Fromm menyatakan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang menggunakan agresi keji (malignant agression), yaitu membunuh untuk alasan selain mempertahankan diri (Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:231).

Kepekaan akan Identitas

Kebutuhan manusia yang ketiga adalah (sense of identity) atau kemampuan untuk menyadari diri sendiri sebagai wujud terpisah. Oleh karena kita telah terpisahkan dari alam, maka kita harus membentuk konsep akan diri kita sendiri dan untuk mampu berkata “saya adalah saya” atau “saya adalah subjek dari tindakan saya”. Fromm percaya bahwa manusia primitif mengidentifikasi diri mereka lebih dekat dengan klan mereka dan tidak melihat dirinya sebagai individu yang terpisah dari kelompok. Tanpa kepekaan akan identitas, manusia tidak dapat mempertahankan kewarasan mereka dan ancaman ini mendorong mereka untuk melakukan hampir segala hal untuk mendapatkan kepekaan identitas (Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:233).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s