Sosiologi Menurut Georg Simmel

Johnson mengatakan bahwa teori Simmel tentang masyarakat merupakan pemaduan antara pandangan nominalis dan realis. Bila pandangan nominalis melihat hanya individu yang nyata (Weber), sedangkan yang di luarnya hanya abstraksi, pandangan realis menganggap kenyataan sosial independen dari individu yang membentuknya (Durkheim), Simmel menganggap masyarakat terbentuk dari interaksi yang nyata antarindividu. Bagi Simmel, pemahaman mengenai masyarakat pada level struktural yang makro harus berpijak pada interaksi sosial yang teramati pada level mikro, misalnya interaksi dalam silaturahmi atau pergaulan sehari-hari, interaksi antar-sepasang sekasih, dan sebagainya.

Dalam penelitiannya mengenai interaksi sosial pada level mikro, Simmel berusaha menemukan bentuk atau pola-pola interaksi sosial yang terlepas dari isi interaksi itu. Menurutnya, disiplin sosiologi secara spesifik dan terpisah dari disiplin lain seperti filsafat atau sejarah, harus dapat keluar dari isi interaksi untuk menemukan pola-pola atau bentuknya sebagaimana yang dilakukan dalam linguistik. Salah satu temuan Simmel yang terpenting mengenai pola-pola interaksi itu adalah pola interaksi superordinasi dan subordinasi, yang melibatkan superordinat dan subordinat. Superordinat dan subordinat bukanlah karakteristik pribadi individu yang terlibat dalam interaksi, melainkan produk interaksi yang di dalamnya karakteristik individu menjadi lenyap. Setidaknya ada tiga variasi dalam pola ini, yaitu subordinasi di bawah seorang individu, subordinasidi bawah kelompok, dan subordinasi di bawah prinsip atau peraturan yang bersifat impersonal misalnya ajaran agama atau hukum negara.

Hubungan antara superordinat dan subordinat dapat terganggu karena adanya kemungkinan konflik. Akan tetapi, dalam pemahaman Simmel, konflik bukanlah sesuatu yang bersifat negatif, ancaman terhadap kebersamaan. Konflik justru merupakan bentuk dasar dari interaksi, yang memungkinkan interaksi terus berlangsung dan masyarakat dapat dipertahankan. Yang mengancam kebersamaan, menurutnya, bukanlah konflik, melainkan ketidakterlibatan yang membuat interaksi sosial terhenti sepenuhnya. Selanjutnya, Simmel membedakan beberapa jenis konflik yang dapat menimbulkan akibat sosial yang berbeda, yaitu konflik pertandingan antagonistik konflik hukum, konflik mengenai prinsip-prinsip dasar, konflik antarpribadi, konflik dalam hubungan intim, dan sebagainya.

Namun, konflik menjadi sesuatu yang positif bagi kebersamaan apabila tidak berlangsung secara berkepanjangan, mengarah kepada suatu penyelesaian. Ada beberapa bentuk dan kemungkinan arah penyelesaian konflik, yaitu penghapusan dasar konflik, kemenangan satu pihak di atas penerimaan kekalahan oleh pihak lain, kompromi, perdamaian, atau bahkan ketidakmampuan untuk berdamai.Menurut Simmel, peningkatan jumlah orang yang terlibat dalam interaksi dapat mengubah pola interaksi, memunculkan bentuk-bentuk alternatif pengelompokan dan keterlibatan sosial. Ada pengelompokan sosial yang didasarkan pada ikatan geografis, ikatan profesi yang melampaui batas geografis, ikatan kepentingan bersama yang menuntut penggunaan kriteria rasional. Simmel mengatakan bahwa semakin kompleks suatu masyarakat, semakin rasional ikatan yang digunakan untuk para anggotanya, dan semakin lemah tingkat keterlibatan individu di dalamnya sebagai akibat dari adanya aneka pengelompokan atau kelompok ganda.

Kebudayaan, kata Simmel, merupakan produk kegiatan manusia yang kreatif. Akan tetapi, sekali kreativitas itu dihasilkan dan berbentuk, hasil kreativitas itu justru menghalangi kemungkinan kreativitas yang baru. Karenanya, ada suatu ketegangan yang inheren antara proses kehidupan subjektif yang terus-menerus berusaha mengungkapkan dirinya secara kreatif dan bentuk-bentuk budaya objektif yang harus dihasilkan oleh kegiatan kreatif itu (Faruk 2012:35-37). Dalam sosiologi Georg Simmel memiliki 4 (empat) pokok pemikiran, yaitu kesadaran individu, interaksi sosial, struktur sosial, dan uang dan nilai.

Kesadaran Individu

Pada level ini, Simmel memusatkan pada bentuk asosiasi dan tidak terlalu memerhatikan masalah kesadaran individu itu sendiri (kecuali pembahasannya tentang memori yang dapat dibaca dalam Jedlowski, 1990). Bagi Simmel, dasar kehidupan sosial adalah individu atau kelompok individu yang sadar dan berinteraksi satu sama lain untuk beragam motif, tujuan, dan kepentingan. Minatnya terhadap kreativitas tampak dalam diskusi Simmel tentang beragam bentuk interaksi, kemampuan aktor untuk menciptakan struktur sosial, maupun efek merusak dari struktur-struktur tersebut terhadap kreativitas individu (Ritzer dan Goodman 2008:177).

Menurut Simmel, kesadaran memiliki peran lain dalam karya-karyanya. Sebagai contoh, meskipun Simmel percaya bahwa struktur sosial (dan budaya) memiliki hidupnya sendiri, ia sadar bahwa orang harus mengonspetualisasikan struktur-struktur tersebut agar bisa memiliki pengaruh pada dirinya. Simmel juga menyatakan “masyarakat tidak sekedar ‘ada di luar sana’, namun juga ‘menjadi representasi saya’, yang merupakan sesuatu yang bergantung pada aktivitas kesadaran.”

Pandangan Simmel sangat mirip dengan pandangan George Herbert Mead dan para penganut interaksionisme simbolik tentang kemampuan orang untuk secara mental menentang dirinya sendiri dan menjauhkan dirinya dari tindakannya sendiri. Dalam hal ini, Simmel menjelaskan bahwa aktor dapat mengambil dorongan eksternal, menjajakinya, mencoba hal/ tindakan berbeda, kemudian memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan. Simmel juga menyadari adanya kesadaran individu dan fakta bahwa norma serta nilai masyarakat terinternalisasi dalam kesadaran individu (Ritzer and Goodman 2008:178).

Menurut Simmel, paham pertama menganggap bahwa hanya individu yang nyata (realitas Primer). Kehidupan merupakan sifat eksklusif individu, kualitas dan pengalaman-pengalaman individu. Sedangkan masyarakat hanya dianggap sebagai abstraksi. Selanjutnya paham kedua menganggap bahwa masyarakat jauh lebih besar dan lebih penting untuk diangkat sebagai subyek persoalan dari suatu ilmu khusus. Menurut Simmel, hanya masyarakat yang nyata, sedangkan individu hanya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sehingga individu terbatasi oleh masyarakat (Widyanta 2002:82).

Interaksi Sosial (Asosiasi)

Adanya kesadaran individu yang dikemukakan oleh Georg Simmel menjadi sumber awal untuk mengkaji lebih jauh tentang interaksi sosial. Sedangkan konflik dan krisis kebudayaan modern dilukiskan Simmel dalam bentuk pemiskinan-subyektivitas yang disebutnya endemi atrophy (terhentinya pertumbuhan budaya subyektif) karena hypertrophy (penyuburan budaya obyektif). Simmel berusaha menjelaskan adanya ketimpangan budaya individu atas manusia sebagai subjeknya dibandingkan dengan perkembangan media atau sarana kehidupan yang mengurangi peran aktif manusia dalam berkarya. Sehubungan dengan fenomena endemi antrophy interaksi menjadi salah satu pokok pemikiran dalam teori Simmel (Widyanta 2002:16).

Sikap Simmel yang terkadang mengambil posisi yang terlalu dibesar-besarkan terkait dengan arti penting interaksi dalam sosiologinya, banyak orang tidak memerhatikan aspek realitas sosial pada skala yang lebih besar. Sebagai contoh, kadang ia menyamakan masyarakat dengan interaksi. Kemudian masyarakat dapat didefinisikan sebagai sejumlah individu yang dihubungkan dengan interaksi. Interaksi ini dapat mengkristal sebagai bidang permanen. Hubungan ini, atau bentuk sociation, sangat penting karena mereka menunjukkan bahwa masyarakat bukan merupakan substansi, tetapi sebuah peristiwa, dan karena bentuk-bentuk sociation mengatasi individu/ dualisme sosial (individu terlibat dengan satu sama lain dan dengan demikian merupakan sosial). Sedangkan interaksi sosial menurut Georg Simmel memiliki poin-poin tersendiri yang menurutnya merupakan hal yang perlu untuk disertakan dalam teori-teorinya, Simmel mengungkapkan bahwa interaksi meliputi 2 (dua) hal, yaitu menurut bentuk dan menurut tipe (Ritzer dan Goodman 2008:179).

  1. Menurut Bentuk
  • Superordinasi dan Subordinasi

Superordinasi dan subordinasi memiliki hubungan timbal balik. Pemimpin tidak ingin sepenuhnya mengarahkan pikiran dan tindakan orang lain. Justru pemimpin berharap pihak yang tersubordinasi beraksi secara positif atau negatif. Tidak satu pun bentuk interaksi ini yang mungkin ada tanpa adanya hubungan timbal balik. Dalam bentuk dominasi paling opresif sekalipun sampai tingkat tertentu, pihak yang tersubordinasi tetap memiliki kebebasan pribadi. Bagi kebanyakan orang, superordinasi mencakup upaya untuk menghapus sepenuhnya independensi pihak yang tersubordinasi, namun Simmel berargumen bahwa relasi sosial akan hilang jika ini terjadi.

Simmel menyatakan bahwa orang dapat disubordinasi oleh individu, kelompok, atau kekuatan objektif. Kepemimpinan oleh individu tunggal umumnya mengarah pada kelompok tertutup yang mendukung atau menentang pemimpin. Sekalipun ketika oposisi muncul dalam kelompok tersebut, perselisihan dapat diselesaikan lebih mudah ketika pihak-pihak yang bertikai berada pada kekuasaan yang sama-sama lebih tinggi. Subordinasi dalam satu keragaman dapat membawa akibat yang tidak merata. Di satu sisi, objektivitas kekuasaan yang dijalankan keragaman mungkin dapat membentuk kesatuan yang lebih besar dalam kelompok bila dibandingkan dengan kekuasaan sewenang-wenang individu. Di sisi lain kebencian cenderung tumbuh di antara pihak yang tersubordinasi jika mereka tidak mendapatkan perhatian pribadi pemimpin (Ritzer 2010:184).

  • Pertukaran

Salah satu dari sekian banyak pengaruh Simmel pada perkembangan sosiologi adalah bahwa sementara karya analisis mikronya digunakan, namun implikasi yang lebih luas hampir sepenuhnya diabaikan. Sebagai contoh, karya Simmel tentang teori hubungan pertukaran. Simmel melihat pertukaran sebagai jenis interaksi yang paling murni dan paling maju.

Pada umumnya semua interaksi mungkin lebih atau kurang dapat dipahami sebagai pertukaran. Salah satu karakteristik pertukaran adalah bahwa jumlah nilai (dari pihak berinteraksi) lebih besar setelahnya daripada sebelumnya, yaitu: masing-masing pihak memberikan lebih selain yang dia miliki sendiri. Meskipun semua bentuk interaksi membutuhkan pengorbanan, namun interaksi secara jelas terjadi dalam hubungan pertukaran. Simmel beranggapan bahwa seluruh pertukaran sosial melibatkan untung dan rugi (Ritzer dan Goodman 2008:187).

  • Konflik

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Konflik menyelesaikan dualisme berbeda, sedemikian rupa sehingga mencapai semacam kesatuan, meskipun pada akhirnya salah satu pihak yang bertikai dapat terluka atau dihancurkan oleh pihak lain. Oleh karena itu, konflik memiliki karakteristik positif menyelesaikan ketegangan antara ke-dua belah pihak.

Sedangkan ketidak pedulian adalah sebuah fenomena yang tergolong dampak yang negatif murni. Simmel juga berpendapat konflik yang diperlukan untuk masyarakat adalah perubahan yang terjadi pada suatu kelompok yang harmonis sacara nyata, akan tetapi tidak bisa mendukung proses kehidupan kemasyarakatan yang riil (Ritzer dan Goodman 2008:175).

  • Gaya

Gaya adalah bentuk relasi sosial yang memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya juga melibatkan proses historis: pada tahap awal, setiap orang menerima hal-hal yang cocok; tak ayal, individu melenceng darinya; dan pada akhirnya, dalam proses penyimpangan ini, mungkin saja mereka mengadopsi pandangan yang sama tentang hal-hal yang terdapat dalam gaya tersebut (Ritzer dan Goodman 2008:175).

Gaya juga bersifat dialektis yang berarti bahwa keberhasilan dan persebaran gaya tertentu pada akhirnya akan berujung pada kegagalan. Hal ini dikarenakan perbedaan sesuatu menyebabkannya dipandang cocok, namun ketika banyak orang yang menerimanya, gaya mulai tidak lagi berbeda dan dengan demikian gaya kehilangan daya tariknya. Dualitas lain adalah peran pemimpin dalam gerakan gaya itu sendiri. Orang yang memimpin kelompok tersebut, paradoksnya ia mengikuti gaya dengan lebih baik dari pada yang lain dengan mengadopsinya dan dengan tujuan yang lebih jelas.

Simmel berargumen bahwa tidak hanya mengikuti hal-hal yang di dalam gaya tersebut mengandung dualitas, namun juga terdapat upaya yang dilakukan beberapa orang untuk keluar dari gaya. Orang-orang yang tidak mengikuti gaya memandang mereka yang mengikuti gaya tersebut sebagai peniru dan memandang diri mereka sendiri sebagai orang independen, namun Simmel berargumen bahwa orang yang tidak mengikuti gaya tersebut sekedar melakukan bentuk peniruan dalam bentuk sebaliknya (Ritzer dan Goodman 2008:176).

2. Menurut Tipe

  • Orang asing

The Stranger merupakan salah satu esai Simmel yang membicarakan tipe aktor yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Jika terlalu dekat, ia tidak lagi orang asing, namun jika terlalu jauh, ia akan kehilangan kontak dengan kelompok. Interaksi yang dilakukan orang asing dengan kelompok meliputi kombinasi kedekatan dan jarak. Jarak tertentu orang asing dari kelompok tersebut memungkinkannya memiliki serangkaian pola interaksi yang tak lazim dengan anggota kelompok lain. Namun, Simmel tidak hanya memandang orang asing sebagai tipe sosial, ia memandang keasingan sebagai bentuk interaksi sosial (Ritzer dan Goodman 2008:182).

  • Pengelana

Pengelana adalah orang yang hidup berpindah atau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka tinggal disuatu daerah untuk beberapa saat, sebelum melanjutkan perjalanan. Dalam tenggang waktu tinggal di sebuah daerah, pastilah si pengelana melakukan interaksi dengan masyarakat barunya. Saat itu pula, terjadi pertukaran baik budaya yang ia bawa langsung dari tempat asalnya maupun budaya yang ia bawa dari tempat singgah sebelumnya.

Proses di atas berkelanjutan hingga budaya dari satu tempat dapat tersebar baik secara sengaja ataupun tidak. Jika si pengelana memang bertujuan dengan misi budaya hal tersebut dapat berjalan sesuai yang diharapkan, namun jika itu bukanlah misi utamanya budaya yang tertukar hanyalah sebagian (Ritzer dan Goodman 2008:182).

  • Bangsawan

Bangsawan merupakan kelas sosial tertinggi dalam masyarakat pra-modern. Dalam sistem feodal (di Eropa), bangsawan sebagian besar adalah mereka yang memiliki tanah dari penguasa dan harus bertugas untuknya, terutama dinas militer. Di Eropa, bangsawan, di samping kerabat raja, pada awalnya adalah kerabat tuan tanah yang memegang kedudukan ini dari keputusannya sendiri, tanpa tanah tersebut dianugerahi siapapun. Di samping itu, seorang raja atau seorang tuan tanah dapat menjadikan seseorang tuan tanah bawahannya, sebagai penghargaan jasa orang tersebut. Sistem tersebut adalah feodalisme. Kemudian, di kerajaan di mana kekuasaan sudah terpusatkan pada seorang raja, hanya raja, atau tuan tanah yang berdaulat dan tanpa atasan (seperti misalnya para pangeran dan adipati Jerman) yang boleh mengangkat seseorang menjadi bangsawan (Ritzer dan Goodman 2008:182).

  • Orang miskin

Orang miskin adalah orang/keluarga/kelompok yang telah memiliki pekerjaan atau sumber penghasilan yang jelas dan tertentu, tetapi tetap tidak berdaya secara ekonomi karena penghasilannya tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup minimal, yaitu sandang pangan dan papan. Ciri khas karya Simmel, orang miskin juga didefinisikan menurut relasi sosial yaitu orang yang dibantu orang lain atau paling tidak berhak mendapatkan bantuan tersebut. Dalam pandangannya simmel melihat orang miskin tidak dari ada atau tidak adanya uang di tangan.

Pada keadaan yang sama yaitu kehidupan dengan interaksi dan komunikasi dapat menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan tertentu, dimana memiliki dampak positif dan negatif, ada pada suatu saat seseorang merasakan kedekatan, kekompakan, dan kebersamaan baik secara pribadi maupun kelompok. Dalam sosiologi formal Simmel, kita dapat meliihat jelas upayanya mengembangkan geometri relasi sosial. Dua dari koefisien geometri yang menarik perhatiannya adalah jumlah dan jarak (Ritzer dan Goodman 2008:183).

Ketertarikan Simmel pada jumlah dapat dilihat dari bahasannya mengenai dyad (kelompok yang terdiri dari dua orang) dan triad (kelompok yang terdiri dari tiga orang). Menurut Simmel tambahan orang ketiga menyebabkan perubahan yang radikal dan fundamental. Sedangkan masuknya anggota keempat dan seterusnya membawa dampak yang hampir sama dengan masuknya anggota ketiga.

Dyad: Bentuk duaan memperlihatkan ciri khas yang unik sifatnya yang tidak terdapat dalam satuan sosial apapun yang lebih besar. Hal ini muncul dari kenyataan bahwa masing-masing individu dikonfrontasikan oleh hanya seorang yang lainnya, tanpa adanya suatu kolektivitas yang bersifat superpersonal (suatu kolektivias yang kelihatannya mengatasi para anggota individu). Oleh karena itu, pengaruh yang potensial dari seorang individu terhadap satuan sosial lebih besar daripada dalam tipe satuan sosial apapun lainnya. Di lain pihak, jika seorang individu memilih untuk keluar dari suatu kelompok duaan maka satuan sosial itu sendiri akan hilang lenyap. Sebaliknya, dalam semua kelompok lainnya, hilangnya satu orang anggota tidak ikut menghancurkan keseluruhan satuan sosial itu.

Keunikan bentuk duaan yang lain adalah dengan adanya istilah berdua itu sepasang, bertiga menjadi kerumunan (two is company, three is a crowd). Semua orang percaya bahwa rahasia dapat dijaga oleh satu orang, dan tidak lebih dari itu. Karena setiap orang dalam kelompok duaan hanya berhadapan dengan satu orang saja, maka kebutuhan tertentu, keinginan dan karakteristik pribadi dari teman lain itu dapat ditanggapi dengan lebih sunguh-sungguh daripada yang mungkin dapat dibuat dalam kelompok yang lebih besar. Akibatnya, hubungan duaan menjadi intim dan unik secara emosional yang tidak mungkin terjadi dalam bentuk sosial lainnya. Hal ini menimbulkan sifat yang ekslusivistik kepercayaan bahwa kehidupan yang dihayati oleh dua orang tidak dapat dihayati bersama orang lain, dan tidak ada hubungan lain yang memiliki tingkat kekayaan emosional yang sama dengan itu.

Hubungan duaan tidak selalu disertai oleh perasaan-perasaan positif. Dalam situasi konflik, apapun masalah dan sebabnya, hubungan yang sangat intim seringkali membuat konflik malah menjadi lebih parah. Masalah konflik yang kelihatannya sepele bagi orang luar, ditanggapi dengan sangat emosional. Sesungguhnya keterbukaan mereka satu sama lain pada tingkat kepribadian yang sangat dalam membuat mereka mudah saling menyerang yang berhubungan dengan masalah kepribadian ini.

Triad: Triad disini diartikan sebagai pihak ketiga. Salah satu pokok pikiran Simmel yang terkenal adalah diskusinya mengenai berbagai peran yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Peran-peran ini yang tak mungkin kita temukan dalam bentuk duaan, meliputi penengah, wasit, tertius gaudens (pihak ketiga yang menyenangkan) dan orang yang memecah belah dan menaklukan (divider and conqueror). Dalam berbagai situasi, peran penengahlah yang muncul karena ikatan antara kedua anggota dalam bentuk duaan itu didasarkan terutama pada hubungan mereka bersama pada pihak ketiga. Karena kelompok tumbuh menjadi lebih besar, kemungkinan pembentukan sub kelompok internal itu bertambah besar. Kalau hal ini terjadi bentuk-bentuk sosial yang sesuai dengan jumlah yang terdapat dalam berbagai sub kelompok itu akan menjadi dominan.

Berkaitan dengan dyad dan triad pada level yang lebih umum, terdapat sikap Simmel mengenai ukuran kelompok. Di satu sisi ia berpendapat bahwa meningkatnya ukuran kelompok atau masyarakat akan meningkatkan kebebasan individu. Namun di sisi lain Simmel juga menyatakan bahwa masyarakat besar menciptakan serangkaiaan masalah yang mengancam kebebasan individu dimana hal ini bertentangan dengan pendapat pertamanya. Inilah sikap Simmel yang “mendua” (Ritzer dan Goodman 2008:180-181).

Struktur Sosial

Simmel relatif tidak banyak membahas struktur masyarakat pada skala besar, karena fokusnya pada pola-pola interaksi, ia mengabaikan eksistensi level realitas sosial tersebut. Contoh hal di atas dapat ditemukan dalam upayanya mendefinisikan masyarakat, Simmel menolak pandangan yang diungkapkan Emile Durkheim bahwa masyarakat adalah entitas riil dan material.

Suatu struktur merujuk pada pola interaksi tertentu yang kurang lebih mantap dan tetap, yang terdiri atas jaringan relasi-relasi kelas sosial hierarkis dan pembagian kerja tertentu, serta ditopang oleh kaidah-kaidah, peraturan-peraturan, dan nilai-nilai budaya. Dalam pembahasan struktur sosial, menurut Ralph Linton, dikenal dua konsep penting, status dan peran. Status sosial merupakan kedudukan atau posisi sosial seseorang dalam masyarakat. Sedangkan peran sosial merupakan seperangkat harapan terhadap seseorang yang menempati suatu posisi atau status sosial tertentu (Ritzer dan Goodman 2008:185).

Uang dan Nilai

Simmel berpendapat bahwa, uang secara historis tidak hanya berfungsi untuk mengukur benda namun juga untuk mengukur manusia. Simmel secara cermat menyusun teori intinya tentang apa yang mendasari nilai objek tersebut dan apa yang harus dikorbankan seseorang dalam mendapatkanya. Untuk memecahkan masalah uang dan nilai, Simmel memberi sebuah jawaban. Uang tidak perlu memiliki nilai intrinsik (nilai substansi) untuk memastikan nilai ekonominya. Uang sudah cukup diterima oleh semua orang (nilai fungsi) sebagai alat tukar umum. Uang memiliki bagian-bagian pembentuknya yang bersifat “ekstra ekonomis” sebagai objek yang mempesona dan menjadi tanda pemamer kekayaan.

Simmel menunjukkan dalam hal apa penyebaran uang bisa ikut berpartisipasi dalam kemunculan kebebasan individual. Sebenarnya melalui statusnya sebagai ekuivalen umum, hanya uang sajalah yang bisa dipakai untuk segala keperluan. Di sisi lain moneterisasi ekonomi memungkinkan dibebaskanya pekerjaan dari pengawasan perorangan. Lebih dari sekedar alat tukar ekonomi, uang juga merupakan suatu intitusi. Uang tidak hanya menyangkut dua individu yang terlibat dalam pertukaran. Penggunaan uang juga akan mendukung munculnya kecenderungan psikologis yang memiliki karakteristik seperti: ketamakan, kekikiran, kesukaan berfoya-foya, kemiskinan atau kekurangan yang nantinya akan memunculkan berbagai tipe interaksi sosial.

Uang juga ikut berpartisipasi dalam pembentukan “gaya hidup” masyarakat yang oleh Simmel diberikan ciri melalui tiga buah konsep, yaitu: jarak, ritme dan simetri. Simmel melihat signifikansi individu semakin merosot ketika transaksi uang semakin menjadi bagian penting masyarakat dan seiring dengan meluasnya struktur yang tereifikasi. Hal tersebut merupakan bagian dari argumen umum Simmel tentang merosotnya kebudayaan subyektif individu ketika terjadi ekspansi kebudayaan objektif atau disebutnya dengan tragedi kebudayaan (Ritzer dan Goodman 2008:191).

Meski di dalamnya terkandung konsep-konsep filosofis yang penting, pandangannya dalam buku itu lebih merupakan sumbangan bagi sosiologi kultural dan analisis tentang implikasi-implikasi social yang lebih luas dari masalah ekonomi. Minat Simmel terhadap fenomena uang sebenarnya tertanam dalam perhatian teoretis dan filosofisnya yang lebih luas. Simmel melihat uang sebagai bentuk khusus nilai. Selain itu, Simmel juga menyoroti dampak uang terhadap dunia batin manusia dan kebudayaan obyektif secara keseluruhan. Simmel juga melihat kaitan antara uang dan komponen-komponen kehidupan lainnya, seperti pertukaran, milik, kerakusan, ekstravaganza, sinisme, kebebasan individu, gaya hidup, kebudayaan, nilai kepribadian, dan sebagainya (Ritzer dan Goodman 2008:188).

Dan yang terpenting, Simmel melihat uang sebagai sebuah komponen kehidupan spesifik yang mampu membantu manusia untuk memahami totalitas kehidupan. Simmel ingin menarik keluar “totalitas roh zaman dari analisisnya tentang uang.” Menurut Simmel, pertukaran ekonomi dapat dipahami sebagai bentuk interaksi sosial. Ketika transaksi moneter menggantikan barter, terjadi perubahan penting dalam bentuk interaksi antara para pelaku sosial. Simmel melihat uang sebagai sesuatu yang bersifat impersonal, sesuatu yang tidak terdapat pada ekonomi barter. Hubungan antarindividu diwarnai warna dan ciri kalkulatif, menggantikan kecenderungan kualitas sebelumnya (http://lontar.ui.ac .id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=20250455&lokasi=lokal disunting pada 23 Maret 2014 pukul 19.38).

Pada dasarnya masyarakat merupakan tempat uang menjadi tujuan itu sendiri, yang benar-benar menjadi tujuan akhir, melahirkan sejumlah efek negatif yaitu sinisme dan sikap acuh (Beilharz dalam Ritzer dan Goodman 2008:191). Sinisme terjadi ketika aspek tertinggi dan terendah kehidupan sosial diperjualbelikan, direduksi menjadi alat tukar umum (uang). Hal tersebut menyebabkan kita dapat membeli kecantikan atau kebenaran atau kecerdasan semudah kita membeli camilan atau deodoran.

Efek negatif lain yang ditimbulkan oleh uang adalah makin merebaknya hubungan interpersonal atau antar orang. Hal ini menyebabkan semakin munculnya kecenderungan yang hanya berhubungan dengan posisi terlepas dari siapa yang menduduki posisi tersebut. Isu terkait adalah dampak ekonomi uang terhadap kebebasan individu. Ekonomi uang mengarah pada peningkatan perbudakan individu, sehingga individu di dunia modern menjadi teratomisasi dan terisolasi (Ritzer dan Goodman 2008:191-192).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s