Paham Sekularisme dan Masyarakat Sekular

Kembali lagi kita lanjutkan pembahasan ideologi atau paham yang berkembang di Indonesia. Kemarin saya sudah menuliskan sedikit uraian tentang liberalisme, kali ini saya akan membahas tentang sekulerisme dan hal-hal yang berkaitan dengan sekulerisme. Dalam artikel ini, saya mengajak pembaca untuk melatih kejernihan pikiran dalam memahami dan mengambil sikap dari apa yang telah kita baca. Kita bebas memilih mana yang lebih cocok untuk kita serap dan mana yang tidak cocok. Pasalnya, banyak sekali literasi atau tulisan yang ada disekitar kita dan sebagai pembaca, kita harus bisa memilih mana yang baik untuk diri kita sendiri. Beberapa tahun yang lalu, kita dihadapkan dengan kata sekularisme ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat oleh pemerintah Indonesia. Paham sekularisme di Indonesia telah diharamkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk diikuti oleh umat muslim Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, penulis tidak menyalahkan sikap MUI yang telah mengharamkan sekularisme. Mungkin MUI mengkaji paham sekularisme tidak secara keseluruhan. Mereka mengambil keputusan setelah melihat sekularisme dari sisi jeleknya saja. Dimana sisi jelek sekularisme tersebut tidak cocok diterapkan dalam kehidupan umat beragama di Indonesia. Dilain sisi, mungkin MUI kurang memahami bagian sekularisme dari sisi kebaikan atau manfaatnya. Padahal seperti sebuah satu kesatuan, paham sekularisme memiliki sisi baik dan buruk, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tidak mungkin dalam suatu paham hanya memiliki isi yang keseluruhannya salah. Namun, penulis tidak heran jika melihat kecenderungan masyarakat Indonesia yang melihat sesuatu dari buruknya dahulu, bukan dari sisi baiknya dahulu. Alhasil paham sekularisme tidak dapat masuk sepenuhnya ke dalam tatanan masyarakat Indonesia dan label ‘haram’ lebih mengarah pada suatu hal yang dilarang untuk disentuh, dipelajari, apalagi diaplikasikan.

Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia sangat berhati-hati dalam menerima sesuatu yang datang dari Barat dan sekularisme adalah anak kandung peradaban Barat. Disini penulis perlu menjelaskan bagaimana dan apa peradaban Barat itu. Kita perlu menyamakan persepsi antara penulis dan pembaca tentang identitas Barat. Peradaban barat adalah sebuah sebutan dari campuran peradaban Yunani, Romawi, Latin, Jerman, Keltik, Nordik, beserta dua agama Yahudi dan Kristen. Peradaban Yunani Kuno memberikan sumbangan filsafat, etika, estetika, dan pondasi pendidikan. Peradaban Romawi Kuno memberikan banyak sumbangsih dalam bidang hukum dan ketatanegaraan. Perkembangan ilmu alam dan fisika, independensi, nasionalisme, dan mentalitas dipasok dari peradaban Latin, Jerman, Keltik, dan Nordik. Sekedar mengingatkan pembaca bahwa Keltik adalah nama suku yang sekarang berkembang menjadi Wales, Irlandia, dan Inggris. Sedangkan Nordik adalah sebuah cluster budaya yang diwariskan kepada Denmark, Islandia, dan Finlandia. Sementara dari segi keagamaan, peradaban Barat didominasi oleh agama Kristen dan Yahudi. Dari penggabungan beberapa peradaban itulah akhirnya membentuk persepsi peradaban Barat.

Mari kita kaji asal muasal lahirnya sekularisme sebagai sebuah ide. Berawal dari pola pikir para filosof Yunani Kuno melihat keadaan masyrakat pada waktu itu yang menggunakan dualisme metafisik dengan membedakan urusan duniawi dan rohani. Asumsi yang membagi aspek kehidupan menjadi dua bagian, yaitu sepiritual dan secular. Hal-hal yang berubungan dengan agama identik dengan spiritual dan hal-hal yang berhubungan dengan duniawi identik dengan secular. Dari situlah awal mula lahirnya sekularisme. Sedangkan dari segi epistimologi, secular berasal dari bahasa Yunani yaitu saeculum yang berarti ‘duniawi’ dalam dimensi ruang dan ‘sekarang’ dalam dimensi waktu. Orang pertama yang menggunakan istilah sekuralisme adalah seorang penulis dari Inggris yang bernama George Jacob Holyake (1851).

Pada mulanya Holyake menggunakan istilah sekularisme untuk mendeskripsikan kebebasan berpikir. Manusia tidak bebas berpikir pada jaman itu karena segala hal diatur oleh agama. Holyake mengambil jarak terhadap dominasi agama dengan menggunakan istilah sekularisme untuk terlepas dari wilayah agama. Holyake ingin menunjukkan rasa muak atas perlakuan agama yang pada waktu itu mengatur segalanya. Dititik inilah terlihat perbedaan sekularisme dengan liberalisme. Sekularisme melepaskan diri dari cengkraman agama namun membiarkan agama terus berjalan, sedangkan liberalisme lebih kepada meruntuhkan eksistensi agama sebagai sesuatu yang membelenggu kebebasan. Sekularisme memilih untuk bergerak dalam ranah duniawi dengan membangun secularisme state (negara sekuler). Mereka ingin memisahkan urusan negara dengan urusan gereja. Dimana negara diurus oleh pemerintah dan agama diurus oleh kaum gereja. Sekularisme menginginkan hukum negara yang menggunakan hukum sipil sedangkan hukum agama berdasarkan kitab suci. Tidak adanya percampuran antara urusan negara dengan urusan agama adalah tujuan utama negara sekular.

Tentunya tujuan sekuralisme ini bertentangan dengan padangan agama sebelumnya yang mengurusi segala hal. Dalam ajaran agama, kita diajarkan untuk menerapkan sistem keagamaan ke dalam segala aspek kehidupan manusia, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sementara sekularisme yang ingin memisahkan urusan agama dan urusan duniawi, dominasi agama harus direduksi agar tercipta tatanan yang seimbang. Kita bisa melihat gambaran negara sekuler di dunia ini dengan melihat negara Prancis dan Turki. Kemudian mari melihat Indonesia, negara kita sendiri, apakah masuk dalam kategori negara sekular? Menurut penulis sendiri melihat Indonesia ada unsur sekularisme namun secara diam-diam, tidak diakui secara formal. Kita bisa menganalisanya dengan melihat ciri-ciri paham sekularisme itu sendiri.

Bahwa sekularisme menghargai  hak individu dan minoritas, menghargai kesetaraan antar masyarakat, sekularisme ingin menghapuskan sekat kelas dan kasta, dan setiap orang dibantu untuk mencapai cita-cita masing-masing. Disamping itu juga, sekularisme tidak menyukai pemimpin politik yang juga merangkap pemimpin agama dan pemimpin agama tidak boleh sama sekali masuk dalam ranah politik. Harus ada garis pemisah yang jelas antara urusan agama dan urusan politik, antara pemuka agama dan pejabat negara, rasionalisme dan metafisika, dan saintisme menjadi tonggak utama dalam menjalani hidup. Ada tiga komponen penting yang perlu diketahui dalam sekularisme. Pertama, membebaskan dari ilusi dan kepercayaan yang keliru. Kedua,  melepaskan signifikasi yang sakral atau religius. Ketiga, menyingkirkan konsekrasi (komitmen mutlak pada satu tujuan tertentu) terhadap seorang atau objek.

Untuk menuju terciptanya negara sekular, ada sebuah proses yang harus dilewati yaitu sekularisasi. Sama seperti modernisasi untuk mencapai sebuah modernitas. Sekularisasi adalah proses mengubah tatanan masyarakat menjadi sekular dengan melakukan transformasi dari sebuah masyrakat menjadi institusi masyarakat. Nilai-nilai agama dibuat menjadi sebuah institusi atau lembaga agama yang kemudian menjadi sekular. Dalam sebuah institusi, kita bisa melihat hilangnya kesadaran kolektif dan digantikan dengan kesadaran individu. Pemahaman agama secara kolektif digantikan dengan pemahaman agama secara individu. Aktifitas kaegamaan bukan lagi menjadi beban dan tanggung jawab sosial namun sudah menjadi tanggung jawab pribadi. Lebih spesifik lagi adalah hilangnya kekaguman individu kepada pemuka agama yang dikarenakan kesadaran rasional setiap individu. Begitulah sekularisasi berkerja dalam sebuah tatanan negara sekular. Akan tetapi, penulis menemukan devinisi yang berbeda ketika sekularisasi jika dihadapkan dalam konteks pembentukan masyarakat sekular, bukan negara sekular.

Dalam buku The Secular City karya Harvey Cox (1965), terjadi perbedaan antara devinisi sekularisme dengan sekularisasi. Sekularisasi adalah proses membebaskan manusia dan dunia dari kontrol agama dan pandangan hidup metafisikal yang tertutup. Dalam pengertian ini, yang perlu digarisbawahi adalah metafisikal yang tertutup saja, bukan kontrol agama secara keseluruhan. Sekulerisasi mendorong pandangan hidup yang terbuka dari sebuah agama. Sedangkan sekularisme menurut Harvey Cox adalah sebuah pandangan hidup baru yang tertutup, yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan kitab suci manapun. Jadi, perbedaan sekularisasi dan sekularisme disini terdapat pada rasionalisasi beragama dengan ideologisasi beragama (mereduksi agama menjadi penghilangan agama). Tahapan sekularisasi menurut Cox terdiri dari tiga tahap, yaitu memisahkan Tuhan dengan alam, memisahkan antara agama dan negara, dan memisahkan nilai-nilai moral dengan ajaran agama. Dari situlah nantinya tercipta masyarakat yang rasional, yang disebut secular city. Masyarakat sekular menurut Cox digambarkan dengan keadaan masyarakat yang technopolis, yaitu masyarakat mandiri dengan pilihan rasional.

Ciri-ciri masyarakat sekular adalah masayarakat yang mobile, yang selalu bergerak dan menciptakan dinamika yang tinggi. Selain itu, masyarakat sekular melahirkan manusia yang anonimitas, orang dikenal karena perannya bukan karena namanya. Masyarakat sekular cenderung pragmatis, simple, dan tidak ribet. Dapat diartikan sebagai masyarakat yang lebih menyukai jalur yang lebih singkat untuk mencapai tujuan. Selanjutnya, masyarakat sekular menurut Cox tidak mengutamakan prespektif personal dan tidak mudah mensakralkan sesuatu, semua bergerak secara rasional. Jika diterapkan dalam realitas kehidupan masyarakat Indonesia, yang sedang dialami kita sekarang nampaknya lebih tepat jika dikatakan sebagai pseudo-sekularisme (pura-pura sekular). Sekularisme yang dijadikan claim identitas, seperti contoh partai politik yang mendeklarasikan sebagai partai sekuler. Mereka mengklaim sebagai partai yang menerima kaum minoritas diantara kaum mayoritas. Lebih jelasnya penulis katakan sebagai partai ‘islam’ yang menerima anggota ‘non-islam’ untuk menarik simpati masyarakat. Contoh lain, organisasi masyarakat yang berbasis islam namun menaungi masyarakat minoritas yang non-islam. Apakah organisasi ini masuk dalam kategori organisasi sekular? Atau bisa dikatakan proses sekularisasi sedang berlangsung dalam organisasi tersebut untuk terciptanya sebuah secular city? Jawabannya penulis kembalikan kepada analisa pembaca masing-masing.

Kembali kepada kebijakan MUI dalam membuat fatwa haram sekularisme untuk umat muslim Indonesia, perlu kiranya mempertimbangkan devinisi sekularisasi menurut Harvey Cox dalam bukunya The Secular City. Dimana sekularisasi lebih mengarah pada pembentukan masyarakat yang lebih rasional. Bukan seperti yang diduga akan meruntuhkan eksistentsi islam sebelumnya. Bukankah ini semacam ketakutan yang berlebihan, jika dikembalikan pada pengertian radikal, agama adalah sesuatu yang mutlak kebenarannya dan ideologi sama sekali tidak mutlak kebenarannya. Bahwa agama adalah sebuah keyakinan dan ideologi hanya sebuah cara/metode untuk hidup di dunia saja. Atau memang agama bersifat monopoli, yang mendominasi seluruh kehidupan manusia di dunia. tidak ada celah untuk ideologi mengambil sedikit peran dalam keseluruhan kehidupan manusia. Jika memang begitu realitasnya, kita kembali pada abad kelam (11,12,13) dimana agama menguasai seluruh elemen masyarakat dan yang perlu kita waspadai adalah pemuka agama (agamawan) itu sendiri. Mereka memiliki peluang besar untuk meraih kepentingan duniawi dengan berkedok urusan rohani (agama & ketuhan). Anda bisa menengok apa yang terjadi dibalik abad kelam, abad dimana kaum gereja pada masa itu tidak berlaku sabagaimana esensi ajaran agama. Salam menulis.

Disusun oleh: Eko Romansah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s