Pluralisme dan Pluralitas Agama dalam Era Global

Nampaknya Indonesia akhir-akhir ini sedang gemar menyuarakan Pluralisme di tengah tatanan masyarakat yang sedang menghadapi gejolak politik yang carut-marut. Suasana yang kian kemari kian memanas akibat segelintir elite yang memainkan issue agama sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan politiknya.
Bagaimana tidak, jika ranah ras, suku, golongan, dan agama yang notabene memiliki tingkat sinsitifitas tinggi dibenturkan satu sama lain melalui berita palsu. Kita semacam kembali pada era kolonial yang penuh adu domba, fitnah, kepalsuan, dan kemunafikan religi tingkat tinggi. Dalam situasi seperti ini, kaum pluralisme muncul untuk menunjukkan identitas kelompok, dengan membawa sejumlah tawaran-tawaran baru atau sekadar memunculkan kenangan indah akan kebersamaan masa lalu. Kesadaran untuk memahami perbedaan dengan opsi-opsi untuk menciptakan kedamaian hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kali ini penulis mencoba menguraikan bagaimana pluralisme muncul dan berkerja secara sistemik dalam mengambil sikap terhadap kehidupan beragama.

Dalam sejarahnya, Pluralisme masuk kategori ideologi yang dihasilkan dari era modernisme, akan tetapi pluralisme baru muncul di era post-modernisme. Berbeda dengan liberalisme, ideologi yang dilahirkan oleh modernisme dan di era itu juga liberalisme muncul dan berkembang. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya karena rasionalisme. Bahwa tingkat rasionalitas setiap individu ternyata tidak sama, tataran rasional dalam suatu masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain. Hal inilah yang mendorong pluralisme mengalami keterlambatan untuk berkembang, kesadaran atas perbedaan tersebut beru disadari saat kita sudah memasuki era-postmodern. Bagaimanakah proses pluralisme mampu berkembang? Mari kita analisis dengan menggunakan teori-teori yang telah ada.

Dr. Fahrudin Faiz (2016), seorang pakar filsafat Indonesia, mengatakan bahwa nyawa dari pluralisme adalah doctrine of multiplicity (doktrin atas keberagaman). Berbeda dengan monisme yang menggunakan doctrine of unity, yang merupakan antitesis dari pluralisme. Selain monisme juga ada dualisme yang merupakan antitesis dari pluralisme, dualisme menggunakan doctrine of duality bahwa hidup ini hakekatnya berpasangan, seperti baik buruk, malas rajin, putih hitam dll. Cara berpikir yang selalu mencari lawan atau pasangan (protagonis atau antagonis) ini lah yang disebut dualisme. Di Yunani kuno, dikisahkan bahwa hidup melulu berisi cinta dan benci, segala sesuatu di dunia ini adalah gradasi dari cinta dan benci. Sedangkan pluralisme menolak keduanya, baik monisme dan dualisme. Pluralisme mengatakan bahwa keberadaan subtansi itu banyak dan tidak tunggal. Tidak seperti monisme yang mengklaim bahwa hidup hakikatnya adalah urusan rohani, tidak juga seperti dualisme dengan hidup itu hakikatnya ada jasmani dan rohani. Pluralisme menggaungkan hidup yang penuh kompleksitas meliputi jasmani, rohani, akal, insting, naluri dll.

Dalam kehidupan beragama, pluralisme menghindari penilaian dari perspektif tunggal. Bahwasanya realitas itu majemuk atau plural, maka dari itu semua penjelasan dari realistas seharusnya tidak tunggal dan jauh dari arogansi subjektif. Pluralisme berarti doctrine of multiplicity, sebuah pandangan yang menyatakan bahwa ada banyak subtansi yang menyusun realitas secara keseluruhan. Istilah ini juga digunakan secara keseluruhan untuk menunjukkkan bahwa tidak mungkin ada sistem penjelasan atau perspektif tunggal yang bisa menjelaskan keseluruhan realitas. Secara epistimologis, pluralisme adalah adanya banyak sudut pandang yang mungkin sama benar dan sama pentingnya tentang sesuatu. Pluralisme dapat digunakan dalam banyak hal, seperti pluralisme metafisik, bahwa realitas itu tersusun dari banyak hal. Pluralisme epistimologi, sebuah cara berpikir dalam melihat realitas yang sama namun masing-masing memiliki perspektif masing-masing. Pluralisme etika, bahwa moralitas tergantung dari sebuah budaya dengan garis wilayah tertentu, perbedaan pelaku, dan tataran nilai yang digunakan. Pluralisme politik, sebuah sistem pemerintahan yang menerima banyak keragaman, semua viariabel warga punya hak masing-masing yang diinterpretasikan dalam multi partai. Pluralisme agama yang menekankan pada pandangan tentang keimanan yang beragam dan memiliki dasar ukuran kebenaran sendiri-sendiri. Di point ini lah, pluralisme mengambil sikap atas perbedaan agama sacara prinsipal yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Seorang pluralis memiliki gaya berpikir, bersikap, dan melakukan respon terhadap sesuatu menggunakan beberapa cara. Cara berpikir ini diterapkan dalam banyak hal seperti diskusi, berdebat, adu gagasan, ataupun menanggapi permasalahan agama. Seorang pluralis menggunakan metode perspektif, hipotesis, dan metodologis. Gaya perspektif (perspectival pluralism) adalah memahami ralitas sesuai perspektif atau sudut pandang masing-masing. Gaya hipotesis adalah sama-sama menggunakan persepektif namun ada pembuktian akan kebenaran dengan generalisasi atau pandangan umum. Sedangkan pluralisme metodologis yaitu melihat semacam perspektif akan tetapi melacak metode yang digunakan dalam menilai sesuatu. Beberap gaya di atas adalah hasil kesadaran manusia sejak Yunani kuno bahwa setiap filosof punya pemahaman sendiri, sasarannya adalah kondisi ontologis seseorang dalam memahami sesuatu. Nah, bagaimanakah dengan anda? Apakah anda termasuk seorang yang pluralis? Jika iya, pasti lah menggunakan gaya berpikir salah satu diantara emapat gaya diatas.

Kita sudah menguraikan bagaimana pluralisme merespon fenomenologi. Sekarang mari mencoba menguraikan gambaran sebuah kebenaran. Dimana kebenaran adalah muara dari sebuah analisis dan bagi pluralisme, kebenaran pun memiliki ragam warna. Kebenaran secara umum dibagi menjadi empat yaitu dogmatisme, skeptisisme, relativisme, pluralisme. Kebenaran berdasarkan dogmatisme (wahyu) menunjukkan bahwa hanya ada satu kebenaran yang sifatnya konsisten dan obyektif (absolute). Sedangkan kebenaran berdasarkan skeptisisme adalah kebenaran yang mempertanyakan dogmatisme, semua layak dipertanyakan tentang kebenaran agama karena tidak ada kebenaran yang pasti dan absolute. Kebenaran relatif adalah kebenaran yang bersifat subjektif, yang segalanya tergantung akan si penilai kebenaran. Sedangkan kebenaran berdasarkan pluralisme adalah kebenaran yang tersebar, yang bisa dikombinasiikan meskipun seringkali tidak bisa diseragamkan semua. Pulralisme tidak selalu relatif, terkadang absolute namun manivestasi dari keabsolutan itu banyak dan beragam.

Di Indonesia sekarang, bermunculan kelompok yang ekslusif, kelompok yang mengklaim kebenaran dari sudut pandang kelompoknya sendiri. Pandangan kebenaran dari kelompok lain, dianggap salah. Selain itu, ada juga kelompok yang mau berasimilasi, bahwa kelompok baru boleh bergabung dengan kelompok lama asal mau berdaptasi dan mengikuti identitas kelompok lama. Dalam menanggapi permasalahan kebenaran dan sebuah agama pun demikian. Sifat ekslusi sedang merebak dan seolah-olah menguasai Indonesia dengan bantuan media dan propaganda. Sementara Pluralisme mengambil posisi tengah, semuanya boleh masuk dengan gayanya masing-masing dan harus saling memahami untuk kehidupan yang harmonis.

Ajaran inti pluralisme dalam Pluralisme Agama, Muhammad Lengenhausen (1999), adalah tidak sekedar pluralitas, pasalnya plurlitas itu pasif, namun pluralisme juga aktif dalam bersikap/bertindak dan terlibat dalam keragaman itu. Pluralisme tidak sekedar toleransi namun harus aktif mencari tahu titik perbedaan. Pluralisme tidak selalu berarti relativisme, namun saling mempertemukan komitmen. Pluralisme menggunakan bahasa dialog dan pertemuan. Untuk membentuk sebuah konstruksi masyarakat yang pluralis, harus ada nilai-nilai bersama yang dianggap berharga sesuai kesepakatan. pluralisme membutuhkan toleransi dan mutual undersanting (saling memahami). Pluralisme membutuhkan ruang publik yang sehat dan komunikasi yang terbuka. Pluralisme tidak mengijinkan adanya legalisasi hegemoni, kekerasan, dan pemaksaan di level apapun. Penghalang dari pembentukan paham pluralisme adalah adanya sikap prejudice, etnosentris, stereotipe, dan deskriminasi. Sikap prejudice adalah sikap tidak adil terhadap orang lain yang didasarkan asosiasi dirinya terhadap kelompok lain. Etnosentris adalah arogansi budaya atau golongan yang kita miliki terhadap golongan yang lain. Stereotipe adalah anggapan terhadap sebagian kelompok tertentu yang diberlakukan kepada keseluruhan anggota kelompok. Sedangkan deskriminasi adalah sikap yang tidak adil, menghalangi kelompok tertentu untuk masuk dalam kelompok mayoritas.

Pluralisme agama itu menganggap bahwa dalam agama lain juga ada kebenaran. Klaim kebenaran agama-agama tersebut sama-sama benar bagi pengikutnya. Kesadaran atas agama-agama itu berbeda, namun kita harus berkejasama minimal dalam toleransi antar umat beragama. Pluralisme agama diterangkan dalam beberapa tahap yaitu menjalin hubungan yang harmonis dengan pemeluk agama lain, menjauhkan arogansi dan menyebarkan toleransi. Pandangan bahwa pemeluk agama juga memperoleh keselamatan. Para penganut agama memiliki kedudukan yang sama dalam konteks justifikasi keyakinan agama. Pluralisme agama menegaskan bahwa adanya kebenaran agama dapat ditemukan dari agama-agama lain dengan derajat yang sama. Pluralisme memiliki pemahaman bahwa wahyu Tuhan turun dari agama satu ke agama yang lain, jadi kedudukan agama adalah saling menyempurnakan dan bukan menanggalkan. Begitulah cara Pluralisme mengambil sikap dalam persinggungan antar umat beragama, tak terkecuali di Indonesia.

Namun, menurut pandangan penulis, jika pluralisme dibiarkan berkembang melesat tanpa kontrol maka tidak mungkin akan muncul agama global. Agama global adalah bentuk toleransi kaum pluralisme yang berlebihan dan membentuk agama baru yang merupakan campuran atau gabungan dari agama-agama yang telah ada. Sebuah agama baru, tatanan nilai baru, yang lahir dari kemajemukan agama yang digabung me jadi satu. Kita bisa melihat fenomena di Barat, dimana kaum pluralisme telah melahirkan sekte baru, yaitu teologi global yang tanpa mengenal lintas batas agama, gerakan spiritual baru yang marak disebut milleniarisme. Tentunya, kita sebagai bangsa yang beradab tidak menginginkan nilai-nilai luhur baik budaya dan keagamaan luntur karena globalisasi. Penyeragaman gaya hidup, nilai tukar, alat komunikasi, dan mungkin agama adalah target terakhir dari tujuan penyeragaman tersebut. Maka dari sini, marilah….

Disusun oleh: Eko Romansah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s