Sosialisme, Sebuah Tinjauan dari Komunisme Karl Marx

Sebelum membahas sosialisme lebih dalam, mari kita bedakan pengertian sosial, sosialis, dan sosialisme. Sosial adalah sebuah masyarakat, komunitas, kelompok orang, atau warga. Sedangkan sosialis adalah suatu sifat atau karakter dari orang-perorang atau kelompok yang mengedepankan satu rasa kebersamaan
yang mengedepankan kepentingan bersama.

Sosialisme adalah satu ideologi (prinsip-prinsip) kebersamaan yang dianut atau dijalankan oleh suatu komunitas, kelompok, atau masyarakat. Konsep kunci sosialisme ada lima, yaitu komunitas, kerjasama, persamaan, kelas sosial, dan kepentingan umum.

Lahirnya sosialisme sebagai ideologi formal yang dikenal dunia, lahir awal abad ke-20 saat terjadi revolusi industri. Reaksi yang menolak sistem kapitalisme di era industrialisasi. Era tersebut melahirkan kelas baru yaitu kelas perkerja yang mengalami kemiskinan dan keterpinggiran. Mari kita flash-back dialaktika kekuasaan di dunia ini, yang pada mulanya kekuasaan dipegang oleh monarki (kerajaan), saat kerajaan runtuh maka kekuasaan berada ditangan kaum feodal (borjuis) sebagai tuan tanah, dan kelompok borjuis ini menggunakan pekerja untuk menambah kekayaan mereka. Ketika Karl Marx melihat ketidakadilan dari perlakuan kaum borjuis kepada kaum proletar (pekerja), yang menilai pekerja seperti robot dan tidak diperlakukan secara manusiawi, Marx menggagas sosialisme revolusioner yang sering dikenal dengan komunisme.

Saat kita melihat keadaan era industrialisasi abad-19, adanya booming kemiskinan dan daerah kumuh semakin menjamur. Kelompok urban yang menjadi pekerja tidak mendapatkan hak suara. Negara semakin menindas kelompok proletar (pekerja) dan lebih memihak kepada kelompok borjuis. Maka satu-satunya jalan untuk merubah tatanan masyarakat dengan menggunakan cara revolusi karena tidak mungkin kaum borjuis rela begitu saja menyerahkan kekayaan, kenyamanan, dan kesenangannya kepada kapda kaum proletar. Marx mengajak kelompok proletar untuk melumpuhkan kaum borjuis dengan revolusi sacara paksa.

Sebelum Karl Marx memunculkan gagasan Sosialisme revolusioner (komunisme), telah lahir gagasan sosialisme Utopis. Sebuah gagasan sosialisme impian, yang sempurna, namun belum menemukan cara untuk merealisasikannya. Gagasan ini dimulai dari usaha kaum intelektual seperti Robert Own, Etienne Cabet, dan Charles Fourier dkk untuk menggambarkan keadaan masa dimana tercipta kondisi ideal yang egaliter dan komunal. Kata utopis sendiri diambil dari kisah pulau Utopia yang dikarang oleh Thomas Moore. Utopia dalam kisahnya adalah sebuah pulau yang tidak ada kekurangan, tidak ada kemiskinan, tidak ada kejahatan, tidak ada penyakit atau ketidakpedulian dunia. Semua orang berkerja untuk kemajuan seluruh umat dan bukan untuk kekayaan sendiri. Namun hipotesis ini dkritik oleh Karl Marx yang mempertanyakan bagaimana realisasi atau cara untuk mencapai tujuan tersebut. Kemudian Marx menggagas komunisme, yaitu upaya menciptakan sosialisme dengan cara revolusioner.

Komunisme diawali dari kritik Karl Marx pada kapitalisme. Marx menemukan adanya struktur yang tidak imbang dalam sistem kapitalisme yaitu adanya kelompok pekerja (proletar), kelompok pemilik modal (borjuis), kelompok militer, kelompok rohaniawan, dan kelompok penguasa (pemerintah). Kelompok proletar adalah kelompok yang berkerja keras, mereka yang mengurusi segalanya dan hasilnya yang menikmati adalah kelompok borjuis atau pemilik modal. Sedangkan kelompok pemilik modal dilindungi oleh kelompok militer. Kelompok militer menjaga keamanan dan keselamatan kaum borjuis karena dibayar. Kemudian pelindung kedua dari kaum borjuis adalah kaum rohaniawan (agamawan). Mereka membuat siraman rohani untuk menenangkan kaum proletar, agar tidak marah dengan macam-macam doktrin agama. Kelompok paling atas adalah kelompok yang membuat kebijakan dan aturan pemerintah. Kelompok borjuis secara sistemik mendanai kelompok penguasa dengan pajak dll sehingga kaum proletar tidak mendapatkan keadilan yang semestinya dan lebih memihak kaum borjuis.

Karl Marx dalam teorinya, mengatakan bahwa kelompok proletar harus sadar bahwa mereka ditindas. Ada kelompok pemguasa, pengusaha, dan pekerja yang dibalut dalam sistem kapitalisme. Kelompok proletar harus memberontak dan membebaskan diri dari kungkungan kelompok borjuis. Kelas pekerja harus menang dan menguasai pemerintahan. Mereka mengatur perekonomian dengan tujuan menciptakan masyarakat tanpa kelas, semua rata, semua rasa. Hanya dengan cara kediktatoran kelompok proletar yang menguasai pemerintahan untuk menghindari counter-revolusi dari kaum borjuis. Kelompok pekerja harus mengadopsi struktur militeristik untuk merancang revolusioner dan menciptakan negara baru. Hal ini lah nanti muncul kaum sosialisme domokrat, Eduard Bernstein (1850-1932), yang mengkritik cara mencapai perubahan sosial Marx yang revolusioner menjadi evolusioner.

Pada dasarnya, sosialisme demokrat setuju dengan komunis dalam visi sosial, politik, dan ekonomi yang berkarakter kesetaraaan. Mereka percaya bahwa semua itu bisa dicapai dengan cara yang demokratis. Sosialisme demokrat hanya berupaya untuk memodifikasi kapitalisme dengan memasukkan beberapa unsur sosialisme. Mereka sama-sama setuju perjuangan kelas dan pembelaan terhadap para pekerja. Sosialisme demokrat menerima sistem ekonomi kapitalis namun tetap mengakui adanya kepemilikan bersama dan menyetujui adanya intervensi negara dalam hal yang menjadi hajat hidup orang banyak. Perbedaan sosialisme komunis dengan sosialisme demokrat adalah kontrol dalam menguasai ekonomi. Komunisme menekankan kekuasaan sepenuhnya dengan diktatorship sedangkan demokrat mempercayakakan sistem demokratis seperti pemilihan umum.

Sosialisme demokrat menggunakan pandangan deradikalisasi kelompok pekerja dengan ditandai kenaikan gaji pekerja. Radikalisasi indentik dengan kemiskinan dan kaum demokrat menderadikalisasi dengan kenaikan kesejahteraan pekerja. Selain itu kaum demokrat menggunakan pendekatan evolusioner, memberikan pemahaman kaum borjuis bahwa sosialisme lebih rasional daripada kapitalisme. Pembentukan partai sosialisme domokrat untuk mengimplementasikan program sosialis. Membentuk kaum pekerja menjadi mapan yang memimpikan statusquo dan cenderung bersikap konservatif. Nampaknya sistem sosialisme domokrat ini lah yang dipakai Indonesia.

Disusun oleh: Eko Romansah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s