Blog

Autobiografi Guy De Maupassant (Bapak Cerpenis Dunia)

Guy de Maupassant yang memiliki nama asli Henry-René-Albert-Guy de Maupassant adalah seorang penulis Perancis yang beraliran Realisme dan Nutaralisme. Maupassant adalah penulis cerpen pertamakali di dunia. Orang-orang menyebutnya dengan Bapak Cerpenis Dunia. Maupassant lahir di Château de Miromesniel, pada tanggal 5 Agustus 1850.
Keluarga Maupassant berasal dari Lorraine dan menetap di Seine-Maritime. Ayah Maupassant bernama Gustave de Maupassant dan ibunya bernama Laure Le Poittevin, seorang borjuis yang baik dan teman baik dari penulis besar Prancis Gustave Flaubert. Ayah dari Guy de Maupassant berkerja sebagai pegawai bank Stolz di Paris.

Guy mengenyam pendidikan di sekolah besutan Napoleon yang bernama sekolah Henri-IV. Setelah kedua orangtuanya bercerai, Maupassant tinggal bersama ibunya di rumah besar abad kedelapan belas di Etretat. Disitulah Maupassant dibesarkan di lingkungan pedesaan yang tidak jauh dari kawasan pantai. Dari pergaulan bersama nelayan itulah yang nantinya mempengaruhi gaya menulis Maupassant.

Pada tahun 1869 Maupassant mulai belajar hukum di Paris. Pada usia 20 tahun, ia mengajukan diri untuk menjadi tentara selama perang Franco-Prusia atau perang Prancis melawan Jerman. Pada tahun 1872 sampai 1880, Maupassant menjadi pegawai negeri sipil di kementerian kelautan selama sepuluh tahun dan kemudian berpindah di kementerian pendidikan Prancis atas bantuan Gustave Flaubert. Begitu kehidupan Maupassant dengan berkerja di siang hari dan menulis di malam hari. Sampai pada terbit karya pertamanya yang berjudul La Main (Tangan, Februari 1875) dalam kolom Lorraine de Pont-à-Mousson dan kemudian diterbitkan kembali pada buletin Paris pada 10 Maret 1876.

Setelah itu, Maupassant mulai produktif dalam menulis Des Vers (1880). Pada tahun yang sama, Maupassant menerbitkan antologi cerpen Soirées de Medan (1880). Kumpulan cerpennya diedit langsung oleh penulis besar Prancis lainnya yaitu Emile Zola. Di dalam antologi cerpen tersebut juga ada karya Maupassant yang berjudul Boule De Suif (1880). Selama tahun 1880-an, Maupassant menciptakan lebih dari 300 cerita pendek, 6 novel, 3 buku perjalanan, dan 1 kumpulan syair.

Ciri khas tulisan dari Guy de Maupassant adalah cerita-cerita yang ditandai dengan objektivitas. Dengan gaya yang sangat terkontrol dan kadang-kadang penuh dengan komedi, Maupassant memberikan warna baru dalam dunia kesusastraan Eropa masa itu.

Biasanya Maupassant membangun cerpen-cerpennya dengan sebuah episode yang sederhana, yang diambil dari kehidupan sehari-hari, yang menyiratkan sisi tersembunyi dari setiap orang. Saat masyarakat Prancis menduga bahwa Maupassant merupakan bagian dari sekte Freemason, dengan kesar ia menyangkal dengan mengelurkan pernyataan: “Aku tidak akan pernah dikaitkan dengan partai politik apapun, agama apapun, sekte apapun. Aku tidak pernah membawa doktrin dalam dunia pendidikanku, Aku tidak tunduk pada dogma apapun, prinsip apapun. Aku hanya mempertahankan hak untuk berbicara apa adanya”.

Di antara buku paling terkenal Maupassant adalah Une Vie (Sebuah Kehidupan, 1883). Cerpen ini menceritakan tentang keberadaan seorang istri yang frustasi. Sedangkan cerpen Bel-Amie (Teman yang Cantik, 1885) menggambarkan seorang wartawan yang tidak bermoral. Ada lagi cerpen Guy de Maupassant yang berjudul Pierre Et Jean (1888) menceritakan studi psikologis Maupassant dari dua bersaudara yang terlibat hubungan terlarang. Pada tahun 1887, Maupassant juga menghasilkan cerita horor paling menjengkelkan, cerpen berjudul Le Horla (1887) cerpen yang mengisahkan kegilaan seseorang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebagian dari karya Maupassant adalah hasil bimbingan kedua gurunya yaitu Gustave Flaubert dan Emile Zola. Mereka adalah seorang sastrawan besar Prancis abad 18. Tak heran jika karya Maupassant yang berjudul Une Vie yang dicetak 25.000,- exemplar ini mendapat pujian dari penulis Leon Tolstoi. Dia menyebutkan bahwa karya Maupassant adalah karya terbesar kedua setelah Les Misérables yang ditulis oleh Victor Hugo.

Pada usia 20-an, Maupassant pernah menderita sifilis. Penyakit yang menyerang kelamin ini menyebabkan menyebabkan gangguan jiwa pada Maupassant. Hal tersebut sangat terlihat dalam cerita La Maison Tellier (1881) yang memetakan penyakit berkembang Maupassant. Jika melihat kehidupan Maupassant yang bebas dan selalu bersama dengan wanita-wanita penghibur, tak heran jika ia terkena panyakit yang belum ada obatnya itu. Pada tanggal 2 Januari tahun 1892, Maupassant mencoba bunuh diri dengan memotong tenggorokannya. Setelah mendapatkan perawatan intensif dari Dr. Esprit Blanche akhirnya Maupassant mendapatkan kondisi yang membaik. Pada tanggal 6 juli 1893, Maupassant meninggal dalam usia 42 tahun di Passy, Paris. Sekarang Maupassant dikenal sebagai Sastrawan besar milik Prancis dan dunia. Selain menulis Cerpen, keseluruhan hidupnya menghasilkan novel, puisi, naskah drama, dan syair-sair.

Penulis besar itu, sekarang sosoknya diabadikan menjadi sebuah patung yang ditaruh di taman Monceau, Paris. Kalian semua bisa mencari ragam karya Guy de Maupassant yang berjumlah ratusan dan bahkan ribuan itu di situs Goutenberg. Situs tersebut menyimpan arsip-arsip kesusastraan Prancis, yang terlengkap. Jika kalian kesulitan membaca karya Maupassant dalam bahasa Prancis, kalian bisa mencari beberapa karya terjemahan di dalam bahasa Indonesia. Satu dari buku terjemahan Maupassant adalah Mademoiselle Fifi (1882) yang berisi 20 cerpen yang sudah dalam kemasan bahasa Indonesia. Dan terkahir saya menemukan buku terjemahan karya Guy de Maupassant yang bukan merupakan kumpulan cerpen, namun novel pendek yang dicetak indent dan berseri. Silahkan cari di penerbit Yayasan Obor Indonesia, disana gudangnya novel terjemahan, saya sudah berhasil mendapatkan beberapa dari karya Maupassant di Indonesia ini. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam menulis.

Disusun oleh Eko Romansah

Sosialisme, Sebuah Tinjauan dari Komunisme Karl Marx

Sebelum membahas sosialisme lebih dalam, mari kita bedakan pengertian sosial, sosialis, dan sosialisme. Sosial adalah sebuah masyarakat, komunitas, kelompok orang, atau warga. Sedangkan sosialis adalah suatu sifat atau karakter dari orang-perorang atau kelompok yang mengedepankan satu rasa kebersamaan
yang mengedepankan kepentingan bersama.

Sosialisme adalah satu ideologi (prinsip-prinsip) kebersamaan yang dianut atau dijalankan oleh suatu komunitas, kelompok, atau masyarakat. Konsep kunci sosialisme ada lima, yaitu komunitas, kerjasama, persamaan, kelas sosial, dan kepentingan umum.

Lahirnya sosialisme sebagai ideologi formal yang dikenal dunia, lahir awal abad ke-20 saat terjadi revolusi industri. Reaksi yang menolak sistem kapitalisme di era industrialisasi. Era tersebut melahirkan kelas baru yaitu kelas perkerja yang mengalami kemiskinan dan keterpinggiran. Mari kita flash-back dialaktika kekuasaan di dunia ini, yang pada mulanya kekuasaan dipegang oleh monarki (kerajaan), saat kerajaan runtuh maka kekuasaan berada ditangan kaum feodal (borjuis) sebagai tuan tanah, dan kelompok borjuis ini menggunakan pekerja untuk menambah kekayaan mereka. Ketika Karl Marx melihat ketidakadilan dari perlakuan kaum borjuis kepada kaum proletar (pekerja), yang menilai pekerja seperti robot dan tidak diperlakukan secara manusiawi, Marx menggagas sosialisme revolusioner yang sering dikenal dengan komunisme.

Saat kita melihat keadaan era industrialisasi abad-19, adanya booming kemiskinan dan daerah kumuh semakin menjamur. Kelompok urban yang menjadi pekerja tidak mendapatkan hak suara. Negara semakin menindas kelompok proletar (pekerja) dan lebih memihak kepada kelompok borjuis. Maka satu-satunya jalan untuk merubah tatanan masyarakat dengan menggunakan cara revolusi karena tidak mungkin kaum borjuis rela begitu saja menyerahkan kekayaan, kenyamanan, dan kesenangannya kepada kapda kaum proletar. Marx mengajak kelompok proletar untuk melumpuhkan kaum borjuis dengan revolusi sacara paksa.

Sebelum Karl Marx memunculkan gagasan Sosialisme revolusioner (komunisme), telah lahir gagasan sosialisme Utopis. Sebuah gagasan sosialisme impian, yang sempurna, namun belum menemukan cara untuk merealisasikannya. Gagasan ini dimulai dari usaha kaum intelektual seperti Robert Own, Etienne Cabet, dan Charles Fourier dkk untuk menggambarkan keadaan masa dimana tercipta kondisi ideal yang egaliter dan komunal. Kata utopis sendiri diambil dari kisah pulau Utopia yang dikarang oleh Thomas Moore. Utopia dalam kisahnya adalah sebuah pulau yang tidak ada kekurangan, tidak ada kemiskinan, tidak ada kejahatan, tidak ada penyakit atau ketidakpedulian dunia. Semua orang berkerja untuk kemajuan seluruh umat dan bukan untuk kekayaan sendiri. Namun hipotesis ini dkritik oleh Karl Marx yang mempertanyakan bagaimana realisasi atau cara untuk mencapai tujuan tersebut. Kemudian Marx menggagas komunisme, yaitu upaya menciptakan sosialisme dengan cara revolusioner.

Komunisme diawali dari kritik Karl Marx pada kapitalisme. Marx menemukan adanya struktur yang tidak imbang dalam sistem kapitalisme yaitu adanya kelompok pekerja (proletar), kelompok pemilik modal (borjuis), kelompok militer, kelompok rohaniawan, dan kelompok penguasa (pemerintah). Kelompok proletar adalah kelompok yang berkerja keras, mereka yang mengurusi segalanya dan hasilnya yang menikmati adalah kelompok borjuis atau pemilik modal. Sedangkan kelompok pemilik modal dilindungi oleh kelompok militer. Kelompok militer menjaga keamanan dan keselamatan kaum borjuis karena dibayar. Kemudian pelindung kedua dari kaum borjuis adalah kaum rohaniawan (agamawan). Mereka membuat siraman rohani untuk menenangkan kaum proletar, agar tidak marah dengan macam-macam doktrin agama. Kelompok paling atas adalah kelompok yang membuat kebijakan dan aturan pemerintah. Kelompok borjuis secara sistemik mendanai kelompok penguasa dengan pajak dll sehingga kaum proletar tidak mendapatkan keadilan yang semestinya dan lebih memihak kaum borjuis.

Karl Marx dalam teorinya, mengatakan bahwa kelompok proletar harus sadar bahwa mereka ditindas. Ada kelompok pemguasa, pengusaha, dan pekerja yang dibalut dalam sistem kapitalisme. Kelompok proletar harus memberontak dan membebaskan diri dari kungkungan kelompok borjuis. Kelas pekerja harus menang dan menguasai pemerintahan. Mereka mengatur perekonomian dengan tujuan menciptakan masyarakat tanpa kelas, semua rata, semua rasa. Hanya dengan cara kediktatoran kelompok proletar yang menguasai pemerintahan untuk menghindari counter-revolusi dari kaum borjuis. Kelompok pekerja harus mengadopsi struktur militeristik untuk merancang revolusioner dan menciptakan negara baru. Hal ini lah nanti muncul kaum sosialisme domokrat, Eduard Bernstein (1850-1932), yang mengkritik cara mencapai perubahan sosial Marx yang revolusioner menjadi evolusioner.

Pada dasarnya, sosialisme demokrat setuju dengan komunis dalam visi sosial, politik, dan ekonomi yang berkarakter kesetaraaan. Mereka percaya bahwa semua itu bisa dicapai dengan cara yang demokratis. Sosialisme demokrat hanya berupaya untuk memodifikasi kapitalisme dengan memasukkan beberapa unsur sosialisme. Mereka sama-sama setuju perjuangan kelas dan pembelaan terhadap para pekerja. Sosialisme demokrat menerima sistem ekonomi kapitalis namun tetap mengakui adanya kepemilikan bersama dan menyetujui adanya intervensi negara dalam hal yang menjadi hajat hidup orang banyak. Perbedaan sosialisme komunis dengan sosialisme demokrat adalah kontrol dalam menguasai ekonomi. Komunisme menekankan kekuasaan sepenuhnya dengan diktatorship sedangkan demokrat mempercayakakan sistem demokratis seperti pemilihan umum.

Sosialisme demokrat menggunakan pandangan deradikalisasi kelompok pekerja dengan ditandai kenaikan gaji pekerja. Radikalisasi indentik dengan kemiskinan dan kaum demokrat menderadikalisasi dengan kenaikan kesejahteraan pekerja. Selain itu kaum demokrat menggunakan pendekatan evolusioner, memberikan pemahaman kaum borjuis bahwa sosialisme lebih rasional daripada kapitalisme. Pembentukan partai sosialisme domokrat untuk mengimplementasikan program sosialis. Membentuk kaum pekerja menjadi mapan yang memimpikan statusquo dan cenderung bersikap konservatif. Nampaknya sistem sosialisme domokrat ini lah yang dipakai Indonesia.

Disusun oleh: Eko Romansah

Pluralisme dan Pluralitas Agama dalam Era Global

Nampaknya Indonesia akhir-akhir ini sedang gemar menyuarakan Pluralisme di tengah tatanan masyarakat yang sedang menghadapi gejolak politik yang carut-marut. Suasana yang kian kemari kian memanas akibat segelintir elite yang memainkan issue agama sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan politiknya.
Bagaimana tidak, jika ranah ras, suku, golongan, dan agama yang notabene memiliki tingkat sinsitifitas tinggi dibenturkan satu sama lain melalui berita palsu. Kita semacam kembali pada era kolonial yang penuh adu domba, fitnah, kepalsuan, dan kemunafikan religi tingkat tinggi. Dalam situasi seperti ini, kaum pluralisme muncul untuk menunjukkan identitas kelompok, dengan membawa sejumlah tawaran-tawaran baru atau sekadar memunculkan kenangan indah akan kebersamaan masa lalu. Kesadaran untuk memahami perbedaan dengan opsi-opsi untuk menciptakan kedamaian hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kali ini penulis mencoba menguraikan bagaimana pluralisme muncul dan berkerja secara sistemik dalam mengambil sikap terhadap kehidupan beragama.

Dalam sejarahnya, Pluralisme masuk kategori ideologi yang dihasilkan dari era modernisme, akan tetapi pluralisme baru muncul di era post-modernisme. Berbeda dengan liberalisme, ideologi yang dilahirkan oleh modernisme dan di era itu juga liberalisme muncul dan berkembang. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya karena rasionalisme. Bahwa tingkat rasionalitas setiap individu ternyata tidak sama, tataran rasional dalam suatu masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain. Hal inilah yang mendorong pluralisme mengalami keterlambatan untuk berkembang, kesadaran atas perbedaan tersebut beru disadari saat kita sudah memasuki era-postmodern. Bagaimanakah proses pluralisme mampu berkembang? Mari kita analisis dengan menggunakan teori-teori yang telah ada.

Dr. Fahrudin Faiz (2016), seorang pakar filsafat Indonesia, mengatakan bahwa nyawa dari pluralisme adalah doctrine of multiplicity (doktrin atas keberagaman). Berbeda dengan monisme yang menggunakan doctrine of unity, yang merupakan antitesis dari pluralisme. Selain monisme juga ada dualisme yang merupakan antitesis dari pluralisme, dualisme menggunakan doctrine of duality bahwa hidup ini hakekatnya berpasangan, seperti baik buruk, malas rajin, putih hitam dll. Cara berpikir yang selalu mencari lawan atau pasangan (protagonis atau antagonis) ini lah yang disebut dualisme. Di Yunani kuno, dikisahkan bahwa hidup melulu berisi cinta dan benci, segala sesuatu di dunia ini adalah gradasi dari cinta dan benci. Sedangkan pluralisme menolak keduanya, baik monisme dan dualisme. Pluralisme mengatakan bahwa keberadaan subtansi itu banyak dan tidak tunggal. Tidak seperti monisme yang mengklaim bahwa hidup hakikatnya adalah urusan rohani, tidak juga seperti dualisme dengan hidup itu hakikatnya ada jasmani dan rohani. Pluralisme menggaungkan hidup yang penuh kompleksitas meliputi jasmani, rohani, akal, insting, naluri dll.

Dalam kehidupan beragama, pluralisme menghindari penilaian dari perspektif tunggal. Bahwasanya realitas itu majemuk atau plural, maka dari itu semua penjelasan dari realistas seharusnya tidak tunggal dan jauh dari arogansi subjektif. Pluralisme berarti doctrine of multiplicity, sebuah pandangan yang menyatakan bahwa ada banyak subtansi yang menyusun realitas secara keseluruhan. Istilah ini juga digunakan secara keseluruhan untuk menunjukkkan bahwa tidak mungkin ada sistem penjelasan atau perspektif tunggal yang bisa menjelaskan keseluruhan realitas. Secara epistimologis, pluralisme adalah adanya banyak sudut pandang yang mungkin sama benar dan sama pentingnya tentang sesuatu. Pluralisme dapat digunakan dalam banyak hal, seperti pluralisme metafisik, bahwa realitas itu tersusun dari banyak hal. Pluralisme epistimologi, sebuah cara berpikir dalam melihat realitas yang sama namun masing-masing memiliki perspektif masing-masing. Pluralisme etika, bahwa moralitas tergantung dari sebuah budaya dengan garis wilayah tertentu, perbedaan pelaku, dan tataran nilai yang digunakan. Pluralisme politik, sebuah sistem pemerintahan yang menerima banyak keragaman, semua viariabel warga punya hak masing-masing yang diinterpretasikan dalam multi partai. Pluralisme agama yang menekankan pada pandangan tentang keimanan yang beragam dan memiliki dasar ukuran kebenaran sendiri-sendiri. Di point ini lah, pluralisme mengambil sikap atas perbedaan agama sacara prinsipal yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Seorang pluralis memiliki gaya berpikir, bersikap, dan melakukan respon terhadap sesuatu menggunakan beberapa cara. Cara berpikir ini diterapkan dalam banyak hal seperti diskusi, berdebat, adu gagasan, ataupun menanggapi permasalahan agama. Seorang pluralis menggunakan metode perspektif, hipotesis, dan metodologis. Gaya perspektif (perspectival pluralism) adalah memahami ralitas sesuai perspektif atau sudut pandang masing-masing. Gaya hipotesis adalah sama-sama menggunakan persepektif namun ada pembuktian akan kebenaran dengan generalisasi atau pandangan umum. Sedangkan pluralisme metodologis yaitu melihat semacam perspektif akan tetapi melacak metode yang digunakan dalam menilai sesuatu. Beberap gaya di atas adalah hasil kesadaran manusia sejak Yunani kuno bahwa setiap filosof punya pemahaman sendiri, sasarannya adalah kondisi ontologis seseorang dalam memahami sesuatu. Nah, bagaimanakah dengan anda? Apakah anda termasuk seorang yang pluralis? Jika iya, pasti lah menggunakan gaya berpikir salah satu diantara emapat gaya diatas.

Kita sudah menguraikan bagaimana pluralisme merespon fenomenologi. Sekarang mari mencoba menguraikan gambaran sebuah kebenaran. Dimana kebenaran adalah muara dari sebuah analisis dan bagi pluralisme, kebenaran pun memiliki ragam warna. Kebenaran secara umum dibagi menjadi empat yaitu dogmatisme, skeptisisme, relativisme, pluralisme. Kebenaran berdasarkan dogmatisme (wahyu) menunjukkan bahwa hanya ada satu kebenaran yang sifatnya konsisten dan obyektif (absolute). Sedangkan kebenaran berdasarkan skeptisisme adalah kebenaran yang mempertanyakan dogmatisme, semua layak dipertanyakan tentang kebenaran agama karena tidak ada kebenaran yang pasti dan absolute. Kebenaran relatif adalah kebenaran yang bersifat subjektif, yang segalanya tergantung akan si penilai kebenaran. Sedangkan kebenaran berdasarkan pluralisme adalah kebenaran yang tersebar, yang bisa dikombinasiikan meskipun seringkali tidak bisa diseragamkan semua. Pulralisme tidak selalu relatif, terkadang absolute namun manivestasi dari keabsolutan itu banyak dan beragam.

Di Indonesia sekarang, bermunculan kelompok yang ekslusif, kelompok yang mengklaim kebenaran dari sudut pandang kelompoknya sendiri. Pandangan kebenaran dari kelompok lain, dianggap salah. Selain itu, ada juga kelompok yang mau berasimilasi, bahwa kelompok baru boleh bergabung dengan kelompok lama asal mau berdaptasi dan mengikuti identitas kelompok lama. Dalam menanggapi permasalahan kebenaran dan sebuah agama pun demikian. Sifat ekslusi sedang merebak dan seolah-olah menguasai Indonesia dengan bantuan media dan propaganda. Sementara Pluralisme mengambil posisi tengah, semuanya boleh masuk dengan gayanya masing-masing dan harus saling memahami untuk kehidupan yang harmonis.

Ajaran inti pluralisme dalam Pluralisme Agama, Muhammad Lengenhausen (1999), adalah tidak sekedar pluralitas, pasalnya plurlitas itu pasif, namun pluralisme juga aktif dalam bersikap/bertindak dan terlibat dalam keragaman itu. Pluralisme tidak sekedar toleransi namun harus aktif mencari tahu titik perbedaan. Pluralisme tidak selalu berarti relativisme, namun saling mempertemukan komitmen. Pluralisme menggunakan bahasa dialog dan pertemuan. Untuk membentuk sebuah konstruksi masyarakat yang pluralis, harus ada nilai-nilai bersama yang dianggap berharga sesuai kesepakatan. pluralisme membutuhkan toleransi dan mutual undersanting (saling memahami). Pluralisme membutuhkan ruang publik yang sehat dan komunikasi yang terbuka. Pluralisme tidak mengijinkan adanya legalisasi hegemoni, kekerasan, dan pemaksaan di level apapun. Penghalang dari pembentukan paham pluralisme adalah adanya sikap prejudice, etnosentris, stereotipe, dan deskriminasi. Sikap prejudice adalah sikap tidak adil terhadap orang lain yang didasarkan asosiasi dirinya terhadap kelompok lain. Etnosentris adalah arogansi budaya atau golongan yang kita miliki terhadap golongan yang lain. Stereotipe adalah anggapan terhadap sebagian kelompok tertentu yang diberlakukan kepada keseluruhan anggota kelompok. Sedangkan deskriminasi adalah sikap yang tidak adil, menghalangi kelompok tertentu untuk masuk dalam kelompok mayoritas.

Pluralisme agama itu menganggap bahwa dalam agama lain juga ada kebenaran. Klaim kebenaran agama-agama tersebut sama-sama benar bagi pengikutnya. Kesadaran atas agama-agama itu berbeda, namun kita harus berkejasama minimal dalam toleransi antar umat beragama. Pluralisme agama diterangkan dalam beberapa tahap yaitu menjalin hubungan yang harmonis dengan pemeluk agama lain, menjauhkan arogansi dan menyebarkan toleransi. Pandangan bahwa pemeluk agama juga memperoleh keselamatan. Para penganut agama memiliki kedudukan yang sama dalam konteks justifikasi keyakinan agama. Pluralisme agama menegaskan bahwa adanya kebenaran agama dapat ditemukan dari agama-agama lain dengan derajat yang sama. Pluralisme memiliki pemahaman bahwa wahyu Tuhan turun dari agama satu ke agama yang lain, jadi kedudukan agama adalah saling menyempurnakan dan bukan menanggalkan. Begitulah cara Pluralisme mengambil sikap dalam persinggungan antar umat beragama, tak terkecuali di Indonesia.

Namun, menurut pandangan penulis, jika pluralisme dibiarkan berkembang melesat tanpa kontrol maka tidak mungkin akan muncul agama global. Agama global adalah bentuk toleransi kaum pluralisme yang berlebihan dan membentuk agama baru yang merupakan campuran atau gabungan dari agama-agama yang telah ada. Sebuah agama baru, tatanan nilai baru, yang lahir dari kemajemukan agama yang digabung me jadi satu. Kita bisa melihat fenomena di Barat, dimana kaum pluralisme telah melahirkan sekte baru, yaitu teologi global yang tanpa mengenal lintas batas agama, gerakan spiritual baru yang marak disebut milleniarisme. Tentunya, kita sebagai bangsa yang beradab tidak menginginkan nilai-nilai luhur baik budaya dan keagamaan luntur karena globalisasi. Penyeragaman gaya hidup, nilai tukar, alat komunikasi, dan mungkin agama adalah target terakhir dari tujuan penyeragaman tersebut. Maka dari sini, marilah….

Disusun oleh: Eko Romansah

Autobiografi Guy De Maupassant (Bapak Cerpenis Dunia)

Guy de Maupassant yang memiliki nama asli Henry-René-Albert-Guy de Maupassant adalah seorang penulis Perancis yang beraliran Realisme dan Nutaralisme. Maupassant adalah penulis cerpen pertamakali di dunia. Orang-orang menyebutnya dengan Bapak Cerpenis Dunia. Maupassant lahir di Château de Miromesniel, pada tanggal 5 Agustus 1850.

Keluarga Maupassant berasal dari Lorraine dan menetap di Seine-Maritime. Ayah Maupassant bernama Gustave de Maupassant dan ibunya bernama Laure Le Poittevin, seorang borjuis yang baik dan teman baik dari penulis besar Prancis Gustave Flaubert. Ayah dari Guy de Maupassant berkerja sebagai pegawai bank Stolz di Paris.

Guy mengenyam pendidikan di sekolah besutan Napoleon yang bernama sekolah Henri-IV. Setelah kedua orangtuanya bercerai, Maupassant tinggal bersama ibunya di rumah besar abad kedelapan belas di Etretat. Disitulah Maupassant dibesarkan di lingkungan pedesaan yang tidak jauh dari kawasan pantai. Dari pergaulan bersama nelayan itulah yang nantinya mempengaruhi gaya menulis Maupassant.

Pada tahun 1869 Maupassant mulai belajar hukum di Paris. Pada usia 20 tahun, ia mengajukan diri untuk menjadi tentara selama perang Franco-Prusia atau perang Prancis melawan Jerman. Pada tahun 1872 sampai 1880, Maupassant menjadi pegawai negeri sipil di kementerian kelautan selama sepuluh tahun dan kemudian berpindah di kementerian pendidikan Prancis atas bantuan Gustave Flaubert. Begitu kehidupan Maupassant dengan berkerja di siang hari dan menulis di malam hari. Sampai pada terbit karya pertamanya yang berjudul La Main (Tangan, Februari 1875) dalam kolom Lorraine de Pont-à-Mousson dan kemudian diterbitkan kembali pada buletin Paris pada 10 Maret 1876.

Setelah itu, Maupassant mulai produktif dalam menulis Des Vers (1880). Pada tahun yang sama, Maupassant menerbitkan antologi cerpen Soirées de Medan (1880). Kumpulan cerpennya diedit langsung oleh penulis besar Prancis lainnya yaitu Emile Zola. Di dalam antologi cerpen tersebut juga ada karya Maupassant yang berjudul Boule De Suif (1880). Selama tahun 1880-an, Maupassant menciptakan lebih dari 300 cerita pendek, 6 novel, 3 buku perjalanan, dan 1 kumpulan syair.

Ciri khas tulisan dari Guy de Maupassant adalah cerita-cerita yang ditandai dengan objektivitas. Dengan gaya yang sangat terkontrol dan kadang-kadang penuh dengan komedi, Maupassant memberikan warna baru dalam dunia kesusastraan Eropa masa itu.

Biasanya Maupassant membangun cerpen-cerpennya dengan sebuah episode yang sederhana, yang diambil dari kehidupan sehari-hari, yang menyiratkan sisi tersembunyi dari setiap orang. Saat masyarakat Prancis menduga bahwa Maupassant merupakan bagian dari sekte Freemason, dengan kesar ia menyangkal dengan mengelurkan pernyataan: “Aku tidak akan pernah dikaitkan dengan partai politik apapun, agama apapun, sekte apapun. Aku tidak pernah membawa doktrin dalam dunia pendidikanku, Aku tidak tunduk pada dogma apapun, prinsip apapun. Aku hanya mempertahankan hak untuk berbicara apa adanya”.

Di antara buku paling terkenal Maupassant adalah Une Vie (Sebuah Kehidupan, 1883). Cerpen ini menceritakan tentang keberadaan seorang istri yang frustasi. Sedangkan cerpen Bel-Amie (Teman yang Cantik, 1885) menggambarkan seorang wartawan yang tidak bermoral. Ada lagi cerpen Guy de Maupassant yang berjudul Pierre Et Jean (1888) menceritakan studi psikologis Maupassant dari dua bersaudara yang terlibat hubungan terlarang. Pada tahun 1887, Maupassant juga menghasilkan cerita horor paling menjengkelkan, cerpen berjudul Le Horla (1887) cerpen yang mengisahkan kegilaan seseorang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebagian dari karya Maupassant adalah hasil bimbingan kedua gurunya yaitu Gustave Flaubert dan Emile Zola. Mereka adalah seorang sastrawan besar Prancis abad 18. Tak heran jika karya Maupassant yang berjudul Une Vie yang dicetak 25.000,- exemplar ini mendapat pujian dari penulis Leon Tolstoi. Dia menyebutkan bahwa karya Maupassant adalah karya terbesar kedua setelah Les Misérables yang ditulis oleh Victor Hugo.

Pada usia 20-an, Maupassant pernah menderita sifilis. Penyakit yang menyerang kelamin ini menyebabkan menyebabkan gangguan jiwa pada Maupassant. Hal tersebut sangat terlihat dalam cerita La Maison Tellier (1881) yang memetakan penyakit berkembang Maupassant. Jika melihat kehidupan Maupassant yang bebas dan selalu bersama dengan wanita-wanita penghibur, tak heran jika ia terkena panyakit yang belum ada obatnya itu. Pada tanggal 2 Januari tahun 1892, Maupassant mencoba bunuh diri dengan memotong tenggorokannya. Setelah mendapatkan perawatan intensif dari Dr. Esprit Blanche akhirnya Maupassant mendapatkan kondisi yang membaik. Pada tanggal 6 juli 1893, Maupassant meninggal dalam usia 42 tahun di Passy, Paris. Sekarang Maupassant dikenal sebagai Sastrawan besar milik Prancis dan dunia. Selain menulis Cerpen, keseluruhan hidupnya menghasilkan novel, puisi, naskah drama, dan syair-sair.

Penulis besar itu, sekarang sosoknya diabadikan menjadi sebuah patung yang ditaruh di taman Monceau, Paris. Kalian semua bisa mencari ragam karya Guy de Maupassant yang berjumlah ratusan dan bahkan ribuan itu di situs Goutenberg. Situs tersebut menyimpan arsip-arsip kesusastraan Prancis, yang terlengkap. Jika kalian kesulitan membaca karya Maupassant dalam bahasa Prancis, kalian bisa mencari beberapa karya terjemahan di dalam bahasa Indonesia. Satu dari buku terjemahan Maupassant adalah Mademoiselle Fifi (1882) yang berisi 20 cerpen yang sudah dalam kemasan bahasa Indonesia. Dan terkahir saya menemukan buku terjemahan karya Guy de Maupassant yang bukan merupakan kumpulan cerpen, namun novel pendek yang dicetak indent dan berseri. Silahkan cari di penerbit Yayasan Obor Indonesia, disana gudangnya novel terjemahan, saya sudah berhasil mendapatkan beberapa dari karya Maupassant di Indonesia ini. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam menulis.

Disusun oleh Eko Romansah

Mode Ideologi Dunia Hari Ini

Penulis mencoba untuk menuliskan bagaimana memetakan ideologi dengan pembagian yang sederhana, agar pembaca mudah untuk memahami dan tidak kebingungan untuk membedakan antara ideologi satu dengan yang lainnya. Mari kita melihat ideologi dunia hari ini. Secara umum, ideologi di dunia ini dibagi menjadi dua, yaitu ideologi kiri dan ideologi kanan. Berbeda dengan pembagian atau pemetaan negara, kita biasanya membagi kelompok negara di dunia ini menjadi dua, yaitu blok barat dan blok timur. Ciri-ciri ideologi Kiri, mereka konsen pada perubahan tatanan sosial dan ideologi Kanan, mereka konsen pada perubahan kekuasaan/otoritas. Continue reading Mode Ideologi Dunia Hari Ini

Paham Sekularisme dan Masyarakat Sekular

Kembali lagi kita lanjutkan pembahasan ideologi atau paham yang berkembang di Indonesia. Kemarin saya sudah menuliskan sedikit uraian tentang liberalisme, kali ini saya akan membahas tentang sekulerisme dan hal-hal yang berkaitan dengan sekulerisme. Dalam artikel ini, saya mengajak pembaca untuk melatih kejernihan pikiran dalam memahami dan mengambil sikap dari apa yang telah kita baca. Kita bebas memilih mana yang lebih cocok untuk kita serap dan mana yang tidak cocok. Pasalnya, banyak sekali literasi atau tulisan yang ada disekitar kita dan sebagai pembaca, kita harus bisa memilih mana yang baik untuk diri kita sendiri. Beberapa tahun yang lalu, kita Continue reading Paham Sekularisme dan Masyarakat Sekular

Sosiologi Menurut Georg Simmel

Johnson mengatakan bahwa teori Simmel tentang masyarakat merupakan pemaduan antara pandangan nominalis dan realis. Bila pandangan nominalis melihat hanya individu yang nyata (Weber), sedangkan yang di luarnya hanya abstraksi, pandangan realis menganggap kenyataan sosial independen dari individu yang membentuknya (Durkheim), Simmel menganggap masyarakat terbentuk dari interaksi yang nyata antarindividu. Bagi Simmel, pemahaman mengenai masyarakat pada level struktural yang makro harus berpijak pada interaksi sosial yang teramati pada level mikro, misalnya interaksi dalam silaturahmi atau pergaulan sehari-hari, interaksi antar-sepasang sekasih, dan sebagainya. Continue reading Sosiologi Menurut Georg Simmel

Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum

Sosiologi sastra merupakan suatu jenis pendekatan terhadap sastra yang memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda dari yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyakarat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut. Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya (Levine dalam Soemanto 1993:56). Continue reading Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum

Psikoanalisis Humanistis Menurut Erich Fromm

Asumsi dasar Fromm adalah bahwa kepribadian individu dapat dimengerti hanya dengan memahami sejarah manusia “ Diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta kepribadian dan psikologi harus didasari oleh konsep antropologis – filosofis akan keberadaan manusia ”(Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist 2013:228).

Fromm sebagaimana dinyatakan dalam Feist & Feist (2013:228) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “ tercerai berai ”dari kesatuan prasejarahnya dengan Continue reading Psikoanalisis Humanistis Menurut Erich Fromm

Hermeneutika Menurut Martin Heidegger

Martin Heidegger lahir pada tahun 1889 di Messkirch, di wilayah Black Forest dari Baden-Wurttemberg di Jerman. Ia belajar di bawah bimbingan Edmund Husserl (1859-1938) di Freiburg, dan menjadi asistennya. Setelah satu musim Heidegger menggantikan Husserl sebagai dekan filsafat di Freiburg. Tidak seperti Kierkegaard, ia adalah pembuat-sistem dan filsuf professional. Ia menerbitkan karya paling pentingnya Being and Time, pada tahun 1927 (L. Semith dan W. Reaper, 2000:81). Continue reading Hermeneutika Menurut Martin Heidegger